4 Kesalahan Bahasa Tubuh yang Sering Terjadi Ketika Berpresentasi

By David Pranata | Tips Presentasi

Oct 13

Bahasa tubuh anda sangat berpengaruh dalam persepsi audiens akan isi presentasi anda. Apakah anda juga membuat kesalahan-kesalahan yang sering terjadi berikut?

body-language

Ada beberapa bahasa tubuh yang harus diindari supaya anda tidak memberikan persepsi yang keliru kepada audiens. Sering saya menjumpai presenter melakukan kesalahan – kesalahan yang ada berikut karena mereka merasa nervous.

Jangan sampai anda juga terjebak dalam kesalahan yang sama, berikut adalah jenis-jenis bahasa tubuh yang harus anda hindari:

1) Bahasa tubuh yang tertutup

Yang dimaksud dengan bahasa tubuh tertutup / closed body language adalah posisi badan yang cenderung defensif. Beberapa contoh posisi yang termasuk bahasa tubuh tertutup adalah:

  • Berdiri dengan melipat kedua tangan di depan dada
  • Mengatupkan kedua telapak tangan sepanjang jalannya presentasi
  • Memasukkan kedua tangan di kantong celana

Posisi bahasa tubuh tertutup bisa disalah artikan bahwa anda tidak terbuka dalam menyampaikan sesuatu, nervous atau bahkan bisa menimbulkan kesan arogan (terutama untuk posisi tangan masuk di saku celana).

2) Berdiri kaku sepanjang jalannya presentasi

Hal ini biasanya sering terjadi pada presenter pemula karena mereka merasa nervous. Sepanjang presentasi mereka berdiri tegak kaku dengan kedua tangan di samping seperti ketika mengikuti upacara bendera.

Variasi yang lainnya adalah dengan mengaitkan kedua tangan di belakang persis seperti posisi istirahat di tempat ketika upacara bendera. Kesamaan dari kedua hal ini adalah bahasa tubuh anda sangat minim dan terbatas.

Dengan posisi bahasa tubuh yang kaku dan terbatas seperti ini, audiens bisa mempersepsikan bahwa anda merasa nervous atau tidak nyaman dalam menyampaikan pesan anda. Tentu saja ini bukanlah sebuah persepsi yang ingin anda ciptakan dari audiens anda.

Hal lain yang perlu dicermati adalah penggunaan podium / mimbar ketika anda berpresentasi. Kecuali dalam konteks-konteks tertentu (misalnya pidato kenegaraan atau pemberian kata sambutan dalam sebuah acara yang formal), hindarilah menggunaan podium.

Penggunaan podium akan membuat bahasa tubuh anda menjadi sangat terbatas. Lebih lagi podium sendiri akan menjadi halangan fisik untuk anda bisa berinteraksi dengan audiens. Di jaman sekarang ini, gaya presentasi lebih tidak terlalu formal di mana audiens juga mengharapkan adanya interaksi dengan presenter.

3) Pacing and pacifying

Jika berdiri kaku tanpa bergerak sama sekali bukanlah hal yang disarankan bukan berarti bergerak terus menerus adalah sebuah praktek yang tepat. Bergerak terus menerus tanpa adanya alasan yang jelas disebut dengan pacing.

Hal ini sering saya temui pada presenter pemula yang juga dikarenakan karena nervous. Mereka berusaha mengalihkan energi nervous mereka dengan terus menerus bergerak.

Beberapa contoh gerakan yang termasuk dalam pacing adalah:

  • Presenter bergerak maju mundur terus menerus (seperti berdansa cha cha cha)
  • Presenter terus berjalan dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri dst (seperti harimau di dalam kandang)
  • Presenter menyilang-nyilangkan kaki tanpa alasan yang jelas

Selain pacing, ada juga yang disebut dengan pacifying. Pacifying adalah gestur (terutama gerakan tangan) yang dilakukan terus menerus tanpa alasan yang jelas.

Sama dengan pacing, hal ini juga terjadi kebanyakan karena presenter merasa nervous sehingga tanpa sadar mereka melakukan gestur yang berulang-ulang tanpa tujuan.

Beberapa contoh gerakan yang termasuk dalam pacifying adalah:

  • Presenter terus menerus membetulkan rambut, kacamata, baju, kancing baju atau aksesoris lainnya (yang sebetulnya tidak perlu dibenarkan)
  • Presenter terus menerus memainkan bolpoin, kertas atau benda-benda yang mereka pegang

Baik gerakan pacing atau pacifying ini akan mengakibatkan gangguan pada perhatian audiens. Perhatian mereka akan terpecah juga pada bahasa tubuh anda yang tidak perlu.

Hasilnya penyampaian pesan presentasi anda tidak akan maksimal atau yang lebih parah lagi perhatian audiens malahan teralihkan karena memperhatikan bahasa tubuh anda yang mereka anggap lucu.

4) Kontak mata yang tidak tertuju ke audiens

Kesalahan ini sering juga saya temukan pada presenter pemula, mereka berpresentasi seperti melakukan monolog atau menghafal naskah proklamasi. Sehingga yang terjadi adalah mereka berpresentasi dengan pandangan mata menatap langit-langit, tembok di depan mereka atau ke lantai (seakan-akan di sanalah mereka menempatkan contekan presentasi yang bisa mereka baca).

Jika hal ini terjadi, maka anda sebagai presenter tidak akan bisa connect / terhubung dengan audiens. Bagaimanapun juga presentasi adalah sebuah media komunikasi, bukannya sebuah pertunjukan. Dalam berkomunikasi bagaimana perasaan anda jika orang yang dihadapan anda berbicara tanpa pernah menatap mata anda? Apakah anda bisa merasa dekat dengan dia? Saya yakin anda akan menjawab tidak.

Jadi itu tadi adalah 4 kesalahan bahasa tubuh yang sering terjadi di dalam presentasi. Dengan mengetahuinya, saya harap anda juga bisa terhindar dari kesalahan yang sama.

Pertanyaan: “Adakah kesalahan lain dalam bahasa tubuh presentasi yang saya lewatkan?” Silahkan membagikan jawaban anda pada kolom komentar yang ada di bawah

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.