1

Cara Membuat Presentasi Anda Melekat di Benak Audiens

Ada sebuah buku sangat menarik yang membahas tentang bagaimana supaya ide, pesan atau gagasan yang kita sampaikan melekat (gampang diingat dan tidak mudah dilupakan) oleh audiens atau siapapun yang menerima pesan kita. Sebetulnya buku ini sudah cukup lama keluar dan saya baca, akan tetapi sampai sekarang pun aplikasinya masih sangat relevan.

Buku apakah yang saya maksud?

Made to Stick

Ini dia judul bukunya Made to Stick karangan Chip Heath dan Dan Heath. Saya masih ingat betapa terpesonanya dulu pertama kali saya membaca buku ini. Akhirnya buku ini saya baca sampai berulang kali dan bahkan saya jadikan sebuah seminar khusus.

Isi buku ini sangatlah relevan untuk membantu presentasi anda, bukankah banyak presentasi yang begitu berakhir audiens sudah tidak ingat lagi apa yang disampaikan oleh si pembicara? Dengan mempraktekkan prinsip yang telah dijabarkan di buku ini maka anda akan mampu membuat isi presentasi anda melekat di benak audiens dan tidak mudah dilupakan oleh mereka.

Dan untuk anda pembaca setia PresentasiEfektif.com, saya akan mengulas isi buku ini untuk anda plus disertai beberapa pandangan dan opini pribadi saya. Dan saya tidak akan tanggung-tanggung dalam mengulasnya, pada artikel kali ini akan saya ulas gambaran besarnya, sedang pada minggu-minggu berikutnya akan uraikan lebih detil masing-masing bagiannya.

Sudah siapkah anda? Ayo.. mari kita bahas bagaimana cara pesan anda mudah melekat di benak audiens.

Chip & Dan Heath mengatakan bahwa tidak semua pesan diciptakan sama. Ada yang mudah diingat, akan tetapi ada juga yang mudah sekali dilupakan. Contohnya adalah cerita hantu yang dulu waktu kecil pernah diceritakan kakek anda, mungkin sampai sekarang anda masih terngiang-ngiang dan ketakutan sendiri. Akan tetapi apa yang disampaikan oleh dosen mata kuliah stastistik minggu lalu anda sudah tidak ingat sama sekali.

Jikalau demikian, tentunya ada prinsip-prinsip yang membuat suatu pesan lebih mudah diingat dibanding yang lainnya. Prinsip-prinsip inilah yang kemudian dirangkum dan diberi akronim prinsip SUCCESs.

Apa saja prinsip SUCCESs ini?

Simple

Supaya pesan mudah diingat tentunya pertama kali harus mudah dimengerti terlebih dahulu. Jika si penerima pesan saja tidak mengerti apa maksud anda, bagaimana mungkin dia bisa mengingatnya. Oleh karena itu buatlah pesan anda simpel sehingga mudah dimengerti oleh si penerima pesan.

Sering kali orang terjebak dengan apa yang disebut sebagai the curse of knowledge / kutukan pengetahuan. “Wah apa ya ini?” artinya ketika kita menjadi ahli dalam satu hal maka kita lupa bagaimana rasanya ketika dulu kita tidak tahu tentang hal itu. Misalnya saja sekarang anda ahli dalam membuat website, karena sudah terbiasanya membuat website anda lupa bagaimana dulu rasanya ketika dulu anda pertama kali belajar. Sehingga ketika mengajari orang lain membuat website, anda mulai menggunakan istilah-istilah yang bagi orang awam bagaikan bahasa planet lain, anda juga mulai berbicara secara rumit yang susah dimengerti oleh orang awam.

Oleh karena itu anda musti bisa berempati, menempatkan posisi anda pada si penerima pesan dan bertanya Apakah yang saya sampaikan ini bakal cukup jelas dan simpel untuk dia?”.

Unexpected

Segala sesuatu yang normal dan mudah diprediksi akan berpotensi membosankan. Oleh karena itu anda membutuhkan prinsip yang kedua ini (Unexpected) supaya anda bisa mendapatkan dan mempertahankan perhatian dari audiens.

Untuk mendapatkan perhatian dari audiens anda bisa memberikan unsur surprise / kejutan pada presentasi anda. Temukan cara bagaimana anda membuat presentasi anda berbeda dan sedapat mungkin lakukan itu pada bagian pembukaan dari presentasi anda.

Sedang untuk mempertahankan perhatian dari audiens anda bisa memberikan unsur misteri. Adanya misteri akan membuat audiens terus ingin menyimak apa yang anda sampaikan. Anda harus terus membuat audiens penasaran akan apa yang hendak anda sampaikan berikutnya.

Concrete

Concrete berarti nyata, yang akan membuat audiens mengerti dan mengingat pesan kita. Banyak presentasi yang mendapat komplain dari audiens karena kurang jelas. Biasanya yang dimaksud kurang jelas di sini adalah si pembicara kurang memberikan contoh-contoh dan penerapan nyata dari isi presentasi mereka.

Oleh karena itu dalam presentasi anda harus menggunakan contoh dan aplikasi nyata penerapan apa yang telah anda sampaikan. Jikalau perlu anda juga bisa melakukan demonstrasi langsung akan apa yang anda sampaikan, contoh: sebuah presentasi tentang cara memasak cap jay, akan lebih mudah ditangkap dan jelas jika anda demokan langsung dibanding anda hanya menyampaikan secara lisan.

Credible

Presentasi anda juga haruslah dianggap kredibel oleh audiens, hal ini diperlukan supaya audiens percaya akan apa yang anda sampaikan. Anda bisa menyampaikan presentasi anda sampai berbuih-buih akan tetapi jika audiens tidak menganggap anda sebagai pribadi yang kredibel maka apa yang anda sampaikan juga tidak akan dipercaya.

Oleh karena itu sebagai pembicara, anda harus membuat pribadi anda kredibel. Selain itu tunjang pula materi yang anda sampaikan dengan data, opini dari pakar atau statistik supaya orang percaya dengan presentasi anda.

Emotion

Seringkali logika saja tidak cukup untuk membuat kita bertindak. Misalnya saja secara logika kita tahu bahwa olahraga sehat itu diperlukan supaya tubuh kita tetap fit. Akan tetapi sering kali di pagi hari waktu hendak berolah raga, kita kalah dengan rasa emosi malas kita.

Oleh karena itu anda juga perlu menyentuh sisi emosi dari audiens anda, karena emosilah yang akan membuat audiens peduli dan akhirnya bertindak.

Story

Nah.. ini dia favorit saya. Anda membutuhkan cerita untuk presentasi anda. Ceritalah yang akan berfungsi sebagai alat untuk menghibur audiens anda sekaligus cara menyampaikan pesan yang efektif.

Cerita jugalah medium yang tepat supaya anda bisa mengaplikasikan prinsip-prinsip yang ada di atas. Misalnya: cerita akan dengan mudah menyentuh emosi dari audiens. dengan cerita pula anda bisa mendeskripsikan sesuatu dengan konkrit sehingga orang lain percaya.

—————————————————————————————–

Itu tadi di atas pembahasan singkat tentang masing-masing prinsip yang bisa membuat presentasi anda lebih melekat di benak audiens. Jangan kuatir… untuk pembahasan detil tiap prinsipnya beserta penerapannya dalam presentasi, akan saya bahas satu persatu pada artikel-artikel mendatang.

Pertanyaan: “Dari 6 prinsip di atas, manakah yang pernah/sering anda gunakan untuk presentasi anda?” Silahkan sharingkan jawaban anda pada kolom komentar di bawah

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.

  • Ivan Fajri

    Sangat membantu sekali artikel ini. Tapi saya masih bingung, saya seorang Mahasiswa, sempat saya coba presentasikan materi yang saya bawakan (tugas dari dosen) di depan audience (Mahasiswa/wi) dengan bahasa yang tinggi (pertama kali saya paparkan materi saya) karena 99% audience adalah seorang karyawan swasta yang bisa di bilang cukup elit, 90% dari mereka yang mendengar, jawabannya : “Tidak Mengerti”.
    Saya coba bawakan (presentasi ke-2) dengan bahasa yang jauh dari kata “orang yang memiliki intelektual tinggi / sama2 awam” dan hasilnya?? “Masih Sama”.
    Dan hampir seluruh isi kelas (audience teman satu kelas) mereka bilang “Kata-kata mu membuat saya harus naik meja agar bisa mengerti” ada lagi yang bilang “kata-kata mu berputar berkali2 padahal intinya hanya satu” dan yang lain “kata-kata mu susah saya pahami”.
    Padahal, tidak ada satupun dari dosen yang merasa tidak mampu mencerna kata saya. Mereka bahkan memuji saya : “Kamu bergelut di dunia bisnis bidang apa?” Ada lagi yang bilang : “Wow… (terkejut) penjelasan yang sangat bagus sekali dari Ivan (menunjukan ekspresi di depan audience) melanjutkan dari pemaparan Mas Ivan …bla bla bla… seperti itu, sangat jelas sekali”

    Sering saya bertanya pada diri saya setelah presentasi, “Apa yang salah dengan saya??” “Saya sudah menunjukan kebodohan saya dengan bahasa yang sangat rendah” “saya sudah maksimalkan perform saya dengan contoh nyata yang saya rasa sudah mereka alami dari penjelasan saya tapi kenapa masih tidak ada yang mengerti??”

    Terkadang saya merasa frustasi tapi anehnya Dosen tak satupun merasa tidak puas yang terlihat dari ekspresi wajah, tubuh, dan ucapannya. Mereka malah sering minta bantuan kepada saya untuk memberikan contoh dari pemaparan yang dosen berikan kepada teman 1 kelas saya.

    Bagaimana menurut anda?? Saya merasa dilema dengan teman2 saya.
    Terima Kasih…