Prinsip Commitment & Consistency – Cara Membuat Orang Rela Melakukan Apa yang Sudah Mereka Katakan

Jika Anda ingin mendapat manfaat maksimal dari bagian ini maka saya minta Anda membuat komitmen terlebih dahulu. Ini dia komitmen yang perlu Anda buat:

Bacalah artikel ini dari awal sampai akhir dengan fokus. Anda tidak bisa membacanya dengan terputus atau terkena distraction, entah itu melihat gadget atau pergi ke kamar mandi. Jikalau Anda tidak siap membuat komitmen ini lebih baik Anda tunda dulu rencana membaca atau jangan dibaca sama sekali.

commitment-consistency

Jikalau Anda sudah siap membuat komitmen, silahkan mulai baca konten di bawah ini:

Bayangkan Anda sedang bersantai di sebuah pantai sambil mendengarkan musik dari handphone Anda. Sampai suatu saat Anda merasa haus dan ingin membeli minuman yang ada di mini market terdekat. Anda pun berjalan menuju ke mini market sambil meninggalkan handphone Anda di atas tikar yang Anda gunakan untuk bersantai.

Seorang pencuri melihat kesempatan emas ini dan akhirnya mengambil handphone Anda dan langsung lari kabur. Nah pertanyaannya sekarang: “Apakah orang yang duduk di sebelah Anda bersedia lari tunggang langgang mengejar pencuri demi menyelamatkan handphone Anda?”

Haha.. Sebuah situasi yang menarik bukan? Para peneliti pernah mengadakan eksperimen serupa untuk melihat bagaimana reaksi orang. Dan jawabannya adalah…. Tergantung. Berikut adalah dua skenario yang mungkin terjadi:

  • Jikalau sebelumnya Anda TIDAK TITIP handphone Anda kepada orang di sebelah maka hanya 20% orang rela mengejar pencuri itu.
  • Jikalau sebelumnya Anda TITIP kepada orang di sebelah misal dengan berkata “Tolong jagakan sebentar ya, saya mau beli minum” , maka 95% orang rela lari tunggang langgang mengejar si pencuri

Sebuah fenomena yang menarik bukan? Hanya dengan meminta komitmen di awal dari orang yang bahkan sama sekali tidak Anda kenal berhasil menaikkan persentase dengan drastis. Mereka bersedia lari tunggang langgang, meresikokan keselamatan diri mereka sendiri demi menangkap pencuri.

Itulah kekuatan dari prinsip commitment & consistency, jika seseorang sudah berkomitmen di awal maka mereka berusaha untuk tetap konsisten dan mengikuti apa yang sudah mereka katakan.

Bahkan seringkali mereka melawan rasio / logika hanya untuk tetap berkomitmen dengan apa yang sebelumnya mereka katakan atau percaya. Berikut adalah satu cerita tentang contoh kisah nyata tentang hal tersebut:

Ada sebuah sekte (haha.. Katakanlah ini sebuah sekte sesat) yang meyakini bahwa hari kiamat sudah dekat. Pemimpin mereka berkata bahwa dunia akan dihancurkan persis pada tanggal tertentu di jam 12 siang. Akan tetapi bagi mereka yang percaya padanya akan dijemput terlebih dahulu dan diselamatkan pada jam tersebut.

Akhirnya seluruh pengikut sekte inipun berkumpul persis di tanggal tersebut, mereka berdoa dan berdoa sambil menanti datangnya jam 12 siang. Jam, menit dan detik pun semakin mendekat, akan tetapi masih juga tidak ada tanda-tanda.

Jam 12 siang akhirnya tiba dan tetap tidak terjadi apa-apa (beberapa dari mereka mungkin berpikir yang jemput sedang terjebak kemacetan lalu lintas antar galaksi sehingga terlambat).

Sampai waktu menunjukkan pukul 4 sore tetap tidak terjadi apa-apa dan setelah itu akhirnya mereka benar-benar terangkat. Akan tetapi terangkatnya bukan ke pesawat ruang angkasa atau ke surga melainkan terangkat ke atas truk karena diciduk (kalau di Indonesia sini mungkin digerebek satpol PP 🙂 ).

Mendapati fenemona ini apa yang dikatakan oleh si pemimpin sekte? Dia berkata “Oooh… ternyata karena doa kita yang begitu khusyuk menjelang kiamat ini, akhirnya kiamat dibatalkan. Berkat kita-lah dunia diselamatkan”

Jikalau Anda sebagai orang luar melihat fenomena ini, apakah Anda percaya dengan perkataan pemimpin sekte itu? Saya yakin Anda akan menjawab tidak percaya bahkan berkata itu adalah sebuah dalih dan argumen yang konyol.

Akan tetapi apa yang terjadi dengan para pengikut sekte tersebut?

Mayoritas dari mereka percaya dengan apa yang dikatakan oleh si pemimpin sekte tersebut. Setelah diwawancarai lebih lanjut, mereka berkata bahwa sudah terlanjur percaya (dengan kata lain sudah terlanjur berkomitmen).

Mereka sudah mengikuti pimpinan sekte itu sejak lama, menjual barang-barang mereka, menahan malu ketika diciduk dan diliput reporter media. Oleh karena itu mereka lebih memilih untuk percaya terhadap komitmen yang sudah mereka buat sejak awal.

Istilah yang populer untuk menggambarkan hal ini adalah “terlanjur basah”, mereka melawan rasio dan akal sehat demi mengikuti komitmen.

Mungkin Anda tertawa membaca cerita di atas, akan tetapi seringkali kita juga bisa terjebak di kondisi serupa (haha.. walaupun tidak seekstrim di atas).

Misalnya saja Anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang atau menjalani sebuah bisnis yang dalam hati kecil Anda tahu sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang Anda ingini. Anda ingin berhenti akan tetapi Anda merasa sudah terlanjur menjalaninya sekian tahun. Sayang sekali jika harus berhenti.

Inilah kondisi di mana Anda terkena prinsip commitment & consistency sehingga tidak bisa berhenti. Padahal andai Anda harus memulai dari awal, Anda tahu bahwa Anda tidak akan menjalani relasi tersebut.

Nah, setelah mempelajari fenomena commitment & consistency ini bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Ini dia beberapa tips untuk memanfaatkannya:

Tips Menggunakan Prinsip Commitment & Consistency

1. Buatlah orang untuk membuat komitmen terlebih dahulu

Ketika Anda menginginkan orang lain melakukan suatu tindakan, Anda bisa meminta mereka untuk membuat komitmen dahulu di awal. Komitmen kecilpun tidak apa-apa, yang penting ada proses mereka membuat komitmen.

Contoh adalah ketika Anda menjual suatu produk, ketika ada orang yang tertarik, Anda bisa meminta mereka untuk memberikan uang muka (down payment) terlebih dahulu. Uang muka adalah satu bentuk komitmen bahwa mereka berminat dan serius untuk bertransaksi. Berdasar pengalaman saya pribadi, mereka yang memberikan uang muka akhirnya lanjut untuk membeli.

Contoh lain yang saya gunakan adalah ketika saya memberikan training di klub Toastmasters. Tiap tahunnya, ada goal / tujuan yang harus dicapai oleh tiap klub. Oleh karena itu dalam training, saya meminta mereka untuk menuliskan goal yang ingin mereka capai di sebuah kertas lalu berfoto dengan goal itu.

Haha.. Ini dia beberapa pose mereka:

komitmen1

komitmen2

Setelah itu saya meminta mereka untuk mengupload foto tersebut ke facebook mereka. Jikalau Anda cermati ini sebenarnya adalah sebuah hal yang simpel, akan tetapi efeknya bisa luar biasa. Mereka akan merasa lebih bersemangat untuk mencapai goal karena dahulu di awal sudah membuat komitmen (sampai difoto dan diupload segala).

2. Bagikan komitmen Anda ke publik

Ingin komitmen yang Anda buat menjadi lebih kuat efeknya? Bagikan apa yang menjadi komitmen Anda ke keluarga dan teman.

Misalnya saja Anda berkomitmen untuk olahraga pagi tiap hari, umumkan komitmen Anda ini kepada keluarga atau teman yang bisa melihat apa yang Anda lakukan di pagi hari. Dengan ini Anda akan merasa lebih berkewajiban untuk berolah raga tiap pagi dibandingkan tertidur pulas di tempat tidur.

Cara lain yang lebih ampuh adalah bisa juga Anda mengajak teman Anda untuk berolah raga bersama. Ketika Anda bangun pagi dan merasa malas berolah raga, Anda akan teringat teman Anda dan merasa tidak enak jika membuat dia kebingungan menunggu. Mau tidak mau akhirnya Anda bangun dan berolah raga.

Intinya adalah bagikan komitmen Anda ke orang lain. Hal ini akan membuat akuntabilitas, di mana Anda akan merasa lebih berkewajiban untuk memenuhi komitmen yang sudah Anda buat sebelumnya.

Nah, sudah kita bahas bagian mengenai prinsip commitment & consistency. Sebelum Anda mengakhiri membaca artikel ini, saya ada sebuah pertanyaan terlebih dahulu: “Apakah Anda akhirnya membaca bagian ini sampai tuntas dengan fokus tanpa terkena distraction?”

Haha.. Jika Anda menjawab “Ya” itu berarti Anda juga sudah terkena prinsip commitment & consistency ini. Ingat jika di awal saya sudah meminta Anda untuk membuat komitmen membaca bagian ini dengan fokus tanpa terganggu.

Enak juga kan membaca tanpa mengalami interupsi? Jikalau enak dan bermanfaat, mengapa tidak Anda lanjutkan membaca bagian lain dari blog ini dengan penuh fokus dan tanpa gangguan? Anda bisa mulai dengan related article yang ada di bawah ini. Silahkan dilanjut ya (kecuali kalau sudah kebelet banget, saran saya ke kamar mandi dulu deh).

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.

  • Gara-gara ilmu psikologi persuasi ini, para marketer sekarang menjadi lebih keren cara jualannya 🙂

    termasuk mas Yudhis dengan cara jualan yang keren seperti ini >> produkimindo.com/thegraph

    • Haha… dalam internet marketing psikologi persuasi sudah seperti sebuah kewajiban Pak Titus.

      Di link yang diberikan Pak Titus sudah jelas ada scarcity (kelangkaan), dikasih coundown timer segala 🙂 Thank you for sharing ya Pak

  • Soleh Lutiana

    cuci gudang itu juga termasuk persuasif bukan pak?

    Sekarang jadi ngeh, dan lebih waspada kalau ada diskon2 hehe.
    di Gramedia itu pak, hampir semua buku di kasih lebel Best Seler :D, padahal buku2 itu jarang masuk berita baik elektronik atau sosmed

    • Halo Pak Soleh, cuci gudang, diskon atau cashback itu juga salah satu strategi untuk menarik emosi pembeli. Coba Bapak cermati tiga pilihan ini, mana yang lebih menarik:
      (A) Baju harga Rp 100.000
      (B) Baju harga Rp 200.000, tapi ada diskon 50%
      (C) Baju harga Rp 200.000, ada promo cashback Rp 100.000
      Pilihan B dan C akan terlihat lebih menarik dibanding pilihan A (padahal bayarnya ya sama aja Rp 100.000)

      Buku dilabeli best seller itu adalah salah satu cara untuk menggunakan social proof. Kalau memang best seller sih gak papa, tapi ada juga yang tidak best seller tapi menggunakannya supaya bukunya tambah laris. Haha.. yang aneh ada yang masih cetakan pertama tapi sudah ada labelnya best seller