3

Empati – Bagaimana Melihat Dunia dari Sudut Pandang Orang Lain

Banyak orang berkata bahwa dalam hidup kita harus bisa berempati dan mengerti perasaan orang lain. Akan tetapi bagaimana caranya? Adakah tips praktis mempratekkannya? Semoga artikel berikut bisa memberi pencerahan.

empati

Empati – melihat dunia dari sudut pandang orang lain

Apa sebenarnya Empati itu?

Dari sekian banyak definisi mengenai empati, ada satu yang paling saya sukai. Definisi ini saya kutip dari Chris Voss dalam bukunya “Never Split the Difference”, berikut adalah definisi yang dia berikan.

Empati: Kemampuan untuk mengenali persepsi, emosi dan perasaan orang lain dan setelah itu mengutarakannya.

Atau dengan kata lain empati bisa juga diartikan sebagai kemampuan untuk melihat dan berpikir dari sudut pandang orang lain. Di jaman sekarang, sering kali ini adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Berikut adalah satu contoh sederhana yang pernah saya saksikan.

Saya pernah berkunjung ke rumah teman, di mana saat itu dia masih tinggal bersama dengan orang tuanya. Sampai suatu saat tiba ketika saya hendak disuguhi lumpia (itu lo makanan khas Semarang).  Teman saya inipun memberikan instruksi kepada pembantunya “Mbak.. tolong lumpianya yang ada di kulkas dikukus ya!”

Bertepatan dengan itu, ibu dari teman saya mendengarnya dan berkata “Looh.. jangan dikukus, digoreng saja lebih enak”. Teman saya pun balik berkata “Kita maunya dikukus kok, menurut kita lebih enak dikukus”

Ibu teman saya inipun kembali membantah “Loohh.. kamu ini sudah dibilangin, Digoreng itu jauh lebih enak”. Setelah itu ganti Ibu teman saya ini berteriak memberi instruksi “Mbakkk.. lumpianya jangan dikukus, digoreng saja”.

Saya yang mendengar dan menyaksikan kejadian ini hanya bisa melongo.

Apa yang terjadi? Menurut saya, ibu dari teman saya ini kurang bisa berempati. Bagaimanapun juga pemilihan makanan adalah mengenai selera. Satu orang dengan yang lain bisa jadi memliki pandangan dan pilihan yang berbeda.

Contoh lain (yang masih berkaitan dengan dunia makanan 🙂 ) adalah tentang menu jerohan (tahu kan? Itu loo.. babat, rempela, hati, dan organ-organ dalam hewan).

Bagi saya pribadi, saya tidak suka bahkan tidak bisa makan jerohan. Mencium apalagi merasakan jerohan bisa-bisa membuat saya mual.

Akan tetapi bagi orang lain, bisa jadi menu jerohan adalah satu santapan yang super lezat. Jika Anda pecinta jerohan mungkin Anda membaca tulisan ini sambil berpikir “Pak David ini orangnya aneh banget, jerohan itu menu paling enak.. kok nggak suka sampai malahan mual toh?”

Tapi itulah yang namanya selera, satu orang dengan yang lain bisa jadi sangat berbeda.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari hal ini?

Tiap orang tidak sama. Kita bisa memiliki persepsi, emosi dan perasaan yang benar-benar berbeda. Yang perlu kita lakukan adalah bisa memahami perasaan dan pikiran orang lain.

Contoh simpel dari hal di atas adalah saya tidak bisa mencap orang lain yang suka jerohan itu orang aneh. Saya seharusnya mengerti bahwa bagi orang lain makan jerohan itu bisa jadi sesuatu yang nikmat banget. Sekali lagi saya hanya perlu memahami, itulah yang disebut empati.

Lalu bagaimana cara berempati?

Dari definisi empati yang ada di atas, (kemampuan untuk mengenali persepsi, emosi dan perasaan orang lain dan setelah itu mengutarakannya) bisa kita cermati bahwa untuk berempati ada dua langkah yaitu:

  1. mengenali perasaan dan
  2. mengutarakan.

Langsung kita bahas satu persatu ya!

Langkah 1: Mengenali persepsi, emosi dan perasaan orang lain.

Intinya jadilah orang yang sensitif dan bisa membaca apa yang ada di balik pikiran dan perasaan orang lain. Beberapa hal yang bisa membantu Anda untuk melakukan hal ini (mengenali persepsi, emosi, perasan) adalah:

  • Lakukan riset terhadap lawan bicara Anda
  • Kemampuan membaca bahasa tubuh
  • Menginterpretasikan intonasi suara
  • Bertanya langsung kepada lawan bicara

Sering kali kita kurang sensitif dan tidak bisa merasakan apa yang menjadi pikiran dan perasaan orang lain. Berikut adalah contoh sederhana dalam bidang dimana saya berkecimpung.

Sering kali saya dipanggil untuk memberikan training di perusahaan di hari Sabtu dan Minggu selama dua hari penuh. Yuk mari kita belajar berempati jika misalkan Anda menjadi salah satu calon peserta training.

Di suatu sore atasan memanggil semua orang dan berkata “Minggu depan hari Sabtu Minggu – dua hari penuh jam 8 pagi sampai jam 5 sore – kita akan ada training ya! Anda wajib hadir”

Kira-kira bagaimana perasaan Anda ketika mendengar pengumuman ini? Apakah Anda akan meloncat kegirangan sambil berteriak “Horree…. Akhirnya ada training lagi! Kita bisa belajar!”

Hhmm… rasanya kok nggak ya 🙂

Kemungkinan besar Anda akan mengomel sambil berkeluh kesah “Haduh.. haduh.. training lagi, training lagi. Berantakan deh waktu bersama keluarga / waktu kencan / waktu istirahat (dan apapun waktu – waktu yang lain)”

Jikalau saya menjadi seorang trainer, maka saya haruslah bisa berempati dan menyadari bahwa inilah yang menjadi pikiran dan perasaan mayoritas audiens yang datang di acara training tersebut.

Sampai di sini Anda sudah melakukan langkah yang pertama yaitu mengindentifikasi apa yang menjadi pikiran dan perasaan orang lain. Bagaimana langkah selanjutnya? Yuk langsung baca di bawah ini!

Langkah 2: Mengutarakan Perasaan Tersebut

Mampu mengenali pikiran dan perasaan saja tidaklah cukup. Setelah itu Anda juga harus mampu mengutarakan. Mengapa kita harus mengutarakan? Karena dengan mengutarakannya maka Anda bisa membuat orang lain merasa dimengerti.

Salah satu kebutuhan  mendasar dari orang (terutama mereka yang berada dalam kondisi emosi negatif, misal: marah, sedih, depresi) adalah kebutuhan untuk dimengerti.

Berikut adalah cara yang sering saya lakukan ketika menghadapi contoh situasi di atas (memberikan training 2 hari di akhir pekan). Biasanya saya akan melakukan dengan menggunakan humor.

Saya akan berempati dengan bertanya kepada audiens “Apa yang Anda rasakan ketika atasan berkata bahwa di akhir pekan ini akan ada training?” 

Setelah itu akan saya lanjutkan “Siapa yang langsung meloncat kegirangan sambil berkata Horee!” (sampai di bagian ini mayoritas peserta akan tertawa karena sudah jelas-jelas bukan itu yang ada di pikiran mereka)

Atau inikah yang ada di pikiran Anda.. “Training lagi, training lagi, harus tersiksa selama dua hari duduk diam mendengarkan presentasi yang membosankan” atau bahkan Anda datang melihat saya dan berkata

“Oohh.. ini dia si biang keroknya, yang membuat saya tidak bisa jalan-jalan akhir pekan ini!”

Inilah tahapan di mana saya mengutarakan hasil identifikasi saya (pikiran dan perasaan mayoritas audiens). Hal inilah yang akan membuat suasana akan menjadi lebih cair dan lebih mudah connect dengan audiens. Mereka juga akan lebih terbuka dalam menerima materi yang diberikan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena jika kita berhasil mengidentifikasi dan mengutarakan pikiran & perasaan orang lain maka mereka akan merasa dirinya dimengerti.

Untuk lebih jelasnya akan saya berikan contoh lain dalam mempraktekkan empati ini. Yuk kita simak supaya lebih paham ya!

Menghadapi Orang Marah

“Ini pelayanannya bagaimana sih.. dari tadi saya tunggu sekian lama kok tidak ada respon malah saya dioper-operkan ke bagian ini dan itu”

Step 1: kita identifikasi perasaan dan pikirannya, mungkin Bapak yang marah tersebut merasa frustasi, jengkel dan bingung.

Step 2: kita utarakan hasil identifikasi kita misal Saya mengerti jika Bapak merasa marah dan bingung dengan situasinya. Coba saya cek dulu apa yang sebenarnya terjadi ya.” (kata – kata yang saya bold di atas adalah kata kunci dari proses empati)

Satu hal yang perlu kita perhatikan dalam proses berempati ini adalah bukan berarti kita menyetujui apa yang mereka percaya atau ucapkan (dalam contoh di atas berarti: menyetujui bahwa training 2 hari bakal membosankan atau pelayanan kita memang buruk). Berempati adalah bisa mengerti dan memahami sesuatu dari prespektif orang lain.

Nah, jadi itu tadi adalah dua langkah dalam proses berempati yang bisa langsung Anda coba dan praktekkan. Marilah kita belajar memahami dan melihat dunia dari perspektif & kacamata orang lain.

Mari kita perluas pandangan dan menyadari bahwa kita semua ini unik dan memiliki persepsi, asumsi, pandangan, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Tugas kita adalah belajar untuk bisa memahami hal-hal tersebut dengan lebih baik.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Tentunya Anda menyadari bahwa saat ini banyak sekali perdebatan yang terjadi terutama di media sosial. Setiap orang saling berpendapat, berargumen dan merasa bahwa pandangan dan pikiran merekalah yang paling benar.

Hanya saja perdebatan bukanlah sarana yang tepat untuk mencapai suatu tujuan bersama. Bisa jadi apa yang ingin kita capai justru terhambat hanya karena kita sibuk berdebat.

Salah satu langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan belajar berempati – mencoba lebih memahami pikiran, perasaan dan perspektif orang lain.

Jikalau Anda merasa tulisan simpel ini bisa membantu Anda, teman atau keluarga Anda untuk lebih memahami orang lain maka hal sederhana yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengklik tombol share yang ada di bawah supaya lebih banyak lagi orang bisa mengerti dan memahami perbedaan. Terima kasih sudah membaca 🙂

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.