Formula Teruji untuk Mengembangkan Bakat dan Kemampuan Anda di Bidang Apapun

Bakat atau sering juga disebut talenta tidaklah murni berasal dari genetika. Berdasarkan penelitian, ada formula yang ketika diikuti dapat mengembangkan bakat, meningkatkan kemampuan dan membuat Anda menjadi ahli di bidang yang Anda ingini.

Formula teruji mengembangkan bakat & kemampuan

Formula teruji mengembangkan bakat & kemampuan

Berdasarkan sekian banyak penelitian yang ada, plus disarikan dengan baik oleh Malcom Gladwell dalam bukunya Outliers serta Geoff Colvin dalam bukunya Talent is Overrated, maka formula teruji untuk mengembangkan bakat dan kemampuan adalah:

Talent = Yearning + Input + Deliberate Practice

Wah, apa maksudnya formula ini?

Mari kita bahas mulai dari yang pertama yaitu yearning (keinginan dan motivasi). Supaya bisa menguasai sesuatu, Anda harus memiliki keinginan untuk belajar dan menguasainya. Jika Anda tidak memiliki niatan untuk berkembang dan tidak ada dorongan untuk menjadi ahli maka percumalah faktor – faktor yang lain.

Faktor kedua adalah inputย yang berarti pengetahuan yang didapat dari segala bentuk pengajaran. Anda butuh seseorang atau sumber yang menunjukkan bagaimana cara melakukan sesuatu (how to). Motivasi saja tidaklah cukup, Anda juga harus mengetahui bagaimana caranya.

Faktor ketiga adalah deliberate practice yaitu tahapan mencoba dan mempraktekkan apa yang sudah dipelajari. Belajar banyak akan tetapi tidak pernah dipraktekkan juga hasilnya tidak akan optimal. Anda hanya akan menjadi ahli dalam hal teori saja akan tetapi tidak pernah bisa merealisasikannya.

Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu persatu komponen yang ada secara lebih detil beserta juga dengan contoh-contohnya. Yuk, langsung kita mulai dengan yang pertama.

Yearning (Keinginan dan Motivasi)

Komponen pertama dari mengembangkan bakat adalah memiliki keinginan atau motivasi untuk terus mempelajarinya. Memiliki talenta saja tetapi tidak ada keinginan untuk terus berkembang dan belajar maka hasilnya sama saja nol.

Salah satu cara untuk memiliki motivasi untuk terus berkembang adalah dengan mengetahui mengapa Anda harus menguasai skill tersebut (Why factor).

Tanyakan kepada diri Anda: Mengapa saya perlu meningkatkan skill ini? Apa untungnya? atau apa yang terjadi jika saya tidak pernah berkembang di bidang ini?

Haha.. karena bidang saya adalah dalam pengembangan skill presentasi / public speaking, maka saya beri contoh di bidang tersebut ya..

Misalkan saja Anda tertarik untuk memperdalam kemampuan presentasi. Untuk tetap menjaga motivasi belajar Anda, tanyakan kepada diri sendiri: Apa sih perlunya belajar presentasi? Apa untungnya? Apa yang terjadi kalau saya tidak pernah mempelajarinya?

Maka Anda akan mulai menemukan jawaban yang akan menjaga motivasi Anda belajar nantinya, misalnya saja:

  • Untuk meningkatkan karir inilah skill yang mutlak harus saya miliki. Saya cermati orang yang duduk di pucuk pimpinan organisasi justru aktivitasnya makin banyak presentasi
  • Untuk mampu menyampaikan ide, pikiran atau pesan saya dengan jelas dan mudah dimengerti. Selama ini saya rasa banyak orang malah tambah bingung ketika saya cerita sesuatu ke mereka
  • Kalau saya tidak pernah belajar presentasi, bisa-bisa posisi saya ya begini – begini saja. Dan saya paling benci kalau merasa stuck atau stay the same.

Temukan Why factor – mengapa Anda harus menguasai skill ini untuk menumbuhkan dan mengembangkan motivasi Anda belajar

Input (Pengetahuan)

Memiliki motivasi dan keinginan saja tidaklah cukup, Anda juga perlu belajar how to (bagaimana cara melakukan sesuatu) untuk mengembangkan bakat.

Contohnya seorang sales bisa saja memiliki semangat yang membara. Akan tetapi ketika dia tidak pernah belajar bagaimana cara berjualan yang benar, maka bisa-bisa dia menjual dengan cara yang tidak tepat. Biasanya hal ini berujung dengan penolakan atau bahkan antipati (yang akhirnya meredupkan motivasinya).

Nah, oleh karena itu Anda perlu untuk mendapatkan input / pengetahuan. Atau singkat kata: ada yang menunjukkan bagaimana caranya yang benar.

Membaca adalah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan, di mana cara ini baik dan biayanya juga relatif terjangkau. Hanya saja riset menunjukkan bahwa belajar sendiri (otodidak) tidaklah seefektif jika dibanding belajar langsung dari orang lain, terutama di tahap – tahap awal pembelajaran.

Mengapa demikian? Simpel saja – karena kita tidak tahu apa yang tidak kita ketahui – We don’t know what we don’t know

Contoh yang saya alami sendiri, ketika saya dan istri rencana mulai belajar yoga. Pertama – tama kita tergoda untuk belajar saja dari nonton youtube dan ditirukan (banyak banget kan channelnya, gak usah bayar lagi).

Akan tetapi setelah berpikir lebih lanjut, kita berubah keputusan. Bisa saja kita meniru gerakan orang di televisi, akan tetapi apakah kita tahu gerakan kita sudah benar? Bisa jadi gerakan kita keliru tapi kita tidak tahu bahwa itu keliru. Bisa – bisa nanti sudah capek-capek tapi tidak dapat manfaat maksimal atau yang lebih parah lagi kesleo dan salah urat ๐Ÿ™‚

Oleh karena itu akhirnya kita memutuskan untuk ikut kursus yoga (bahkan kita bikin group sendiri privat). Dan benar saja, ada banyak hal yang tidak kita mengerti dan lakukan dengan salah jika kita hanya belajar dari menonton youtube saja. Belajar langsung dari yang ahli jauh lebih cepat dan efektif.

Setelah tahu dasar-dasarnya dengan benar, barulah kita gabung ke kelas umum (dan latihan melalui nonton youtube ๐Ÿ™‚ ).

Oleh karena itu belajar melalui mentoring atau training adalah satu cara yang cepat dan tepat untuk meningkatkan kemampuan Anda.

Belajar langsung dari orang yang ahli akan memastikan pembelajaran Anda tepat, efektif dan mempersingkat waktu pembelajaran.

Deliberate Practice (Praktek yang Tertata)

Deliberate practice / praktek yang tertata dan direncanakan berbeda dengan sekedar praktek seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Deliberate practice adalah memecah sebuah aktivitas kompleks menjadi beberapa tahapan / bagian, kemudian mempraktekkan tiap bagian tersebut secara terpisah.

Langsung saja saya beri contoh, kembali ketika Anda ingin mengembangkan bakat dan menguasai kemampuan presentasi. Public speaking adalah sebuah aktivitas kompleks yang terdiri dari banyak komponen.

Jika Anda hanya sekedar praktek (maju ke depan, berbicara dan diulang terus menerus) maka perkembangan Anda akan sangat lambat, bahkan sampai di satu titik ya begitu – begitu saja, tidak ada peningkatan.

Contoh melakukan deliberate practice dalam hal di atas adalah misalnya Anda memilih satu komponen kecil dari public speaking yaitu cara membuka presentasi. Anda pelajari dulu tips, teknik yang benar kemudian nanti dalam prakteknya Anda hanya fokus ke bagian pembukaan presentasi saja. Anda juga ulang – ulang terus sehingga semakin menguasai.

Satu komponen lain yang penting dari deliberate practice ini adalah pemberian feedback. Feedback akan memastikan bahwa apa yang Anda praktekkan sudah tepat. Haha.. karena kalau tidak bisa – bisa malah Anda terus menerus mengulang hal yang keliru, hasilnya bukan tambah baik akan tetapi tambah amburadul.

Lakukan deliberate practice – pecah satu aktivitas kompleks menjadi beberapa bagian atau tahapan dan praktekkan tiap bagian secara terpisah. Lakukan pengulangan.

Nah, jadi itu tadi adalah formula teruji untuk mengembangkan bakat dan kemampuan Anda. Ingat rumus mudahnya yaitu:

Talent = Yearning + Input + Deliberate Practice

Pastikan Anda memiliki ketiga komponen dari talent tersebut yaitu talent, input dan deliberate practice.

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.