Komunikasi Asertif - Berkomunikasi dengan Percaya Diri & Otentik

Komunikasi Asertif – Bagaimana Berkomunikasi dengan Lebih Percaya Diri & Otentik

By David Pranata | Tips Komunikasi

Jan 25

Pernahkah Anda berkata “Ya” padahal sebenarnya ingin berkata “Tidak”? Anda meng-iyakan permintaan karena takut melukai perasaan orang lain. Atau sebaliknya, Anda berkata “Tidak” yang pada akhirnya Anda sesali karena relasi menjadi rusak.

komunikasi asertif

Saya yakin Anda pasti pernah mengalami salah satu atau bahkan kedua situasi di atas. Jadi bagaimana seharusnya kita mensikapi situasi seperti itu? Yuk.. sebelumnya mari kita belajar terlebih dahulu tentang tiga tipe komunikator sehingga mengerti dasar-dasarnya.

Tiga Tipe Komunikator

Secara umum ada tiga tipe komunikator yang ada yaitu pasif, agresif dan asertif. Berikut adalah deskripsi singkat tiga tipe komunikator tersebut.

tipe-komunikator

Termasuk tipe komunikator yang manakah Anda? Untuk mengetahuinya, saya telah menyusun sebuah program quiz untuk Anda. Silahkan dicoba ya!

Setelah mengetahui tipe komunikator seperti apa Anda, ini dia detilnya karakteristik masing – masing tipe komunikator

1) Tipe Komunikator Pasif

Orang yang pasif cenderung untuk memilih diam atau mengiyakan apapun yang dikatakan orang lain. Mereka tidak bisa berkata “Tidak” karena senantiasa kuatir akan apa yang dipikirkan atau dikatakan orang lain tentang diri mereka.

Mereka juga sering merasa takut akan kegagalan sehingga akhirnya lebih banyak menarik diri dan tidak berani mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan atau keinginan mereka.

Apa akibatnya? Orang yang pasif sering tidak mampu mencapai goal mereka – atau bahkan mereka tidak tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan.

2) Tipe Komunikator Agresif

Orang yang agresif cenderung memaksakan kehendak dan menekan orang lain, kadang mereka melakukannya dengan cara – cara yang tidak sehat misalnya dengan marah – marah atau berkata kasar.

Mereka senantiasa ingin menunjukkan atau membuktikan dirinya kepada orang lain dan kepada dunia. Untuk mewujudkannya tidak jarang mereka kurang mempedulikan orang lain.

Apa akibatnya? Orang yang agresif sering bisa mendapat apa yang menjadi keinginan mereka, akan tetapi dengan mengorbankan relasi dengan orang lain.

3) Tipe Komunikator Asertif

Orang yang asertif merasa percaya diri dan nyaman menjadi diri mereka sendiri. Bisa dikatakan bahwa asertif adalah titik keseimbangan dari tipe pasif dan agresif.

Menjadi asertif berarti Anda berani mengutarakan kebutuhan, keinginan dan perasaan Anda dengan percaya diri. Anda nyaman menjadi diri Anda sendiri dan tidak kuatir akan apa yang dipikirkan atau dikatakan orang lain tentang diri Anda.

Hasilnya adalah Anda akan menjadi sebuah pribadi yang otentik, true to yourself. Walaupun orang lain tidak akan selalu setuju atau mengikuti Anda akan tetapi mereka akan mempercayai Anda. Bagi Anda “Ya” adalah “Ya” dan “Tidak” adalah “Tidak”.

Mengapa Menjadi Asertif itu Penting?

Dari deskripsi tiga jenis komunikator di atas, rasanya cukup jelas bahwa kita haruslah menjadi tipe komunikator yang asertif. Mengapa sih sebenarnya penting untuk menjadi seorang yang asertif? Mungkin contoh situasi berikut bisa menggambarkannya:

Dua minggu lagi adalah hari ulang tahun Anda dan saat ini suami bertanya “Sayang, nanti waktu perayaan ulang tahun mau dirayakan seperti apa?”

Dalam hati Anda berharap waktu ulang tahun nanti Anda akan nonton konser musik berdua dengan suami. Setelah itu makan malam romantis di restoran Italia (yang dilengkapi dengan lilin) plus ngobrol asyik sambil mengingat indahnya dulu waktu masa – masa masih pacaran.

Akan tetapi karena takut dibilang “Ahh.. sok romantis” atau bakal merepotkan suami, Anda akhirnya berkata “Terserah deh.. mau dirayakan seperti apa juga boleh”

Akhirnya suami Anda pun harus menebak – nebak seperti apa perayaan ultah ideal-nya (bagi Anda yang sudah jadi suami, setuju kan kalau ini adalah hal yang susah dan rumitnya bukan main 🙂 )

Dan karena beberapa waktu yang lalu Anda pernah berkata ke suami bahwa kapan – kapan mau ajak anak – anak di Dufan. Plus sempat juga berujar kalau di dekat situ ada resto McD yang baru, maka hasilnya….

Perayaan ultah Anda jadi dirayakan dengan jalan – jalan di Dufan bersama tiga anak Anda (yang rewelnya bukan main), makannya di McD (menu Pahe) dan ditutup dengan harus menggendong anak yang ketiduran.

Dalam hati Anda jengkelnya bukan main “Ini tidak seperti apa yang SAYA INGINKAN” (tapi itupun tidak disampaikan ke suami karena takut melukai perasaannya). Sepanjang perjalanan suami Anda juga heran karena wajah Anda kelihatan bad mood melulu.

Akhirnya sebuah perayaan ultah yang mustinya dirayakan dengan gembira berubah menjadi situasi yang tidak menyenangkan untuk kedua belah pihak. Itupun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena tidak ada yang mengutarakan isi perasaan mereka.

Bukankah situasi di atas adalah sesuatu yang umum terjadi?

Jikalau saja kita bisa lebih asertif, bisa mengungkapkan apa yang menjadi keinginan kita maka tentunya situasi tersebut bisa dihindari dengan mudah. Jadi berikut adalah ringkasan mengapa menjadi asertif itu penting:

  • Anda tidak takut meminta apa yang Anda inginkan. Banyak orang tidak berhasil mendapat apa yang mereka inginkan hanya karena tidak berani memintanya
  • Mampu membangun relasi yang lebih baik sekaligus mencapai tujuan Anda. Dan ini berlaku baik untuk relasi pribadi maupun relasi dalam dunia kerja
  • Menjadi lebih percaya diri dan otentik. Jadilah versi diri Anda yang sesungguhnya

Menjadi asertif, dalam teori, adalah semudah mengatakan beberapa kalimat simpel saja. Anda tidak perlu menjadi seorang pembicara ulung atau motivator yang pandai merangkai kata – kata. Akan tetapi dalam prakteknya, ini adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam interaksi kita.

Menjadi Percaya Diri dengan Lebih Asertif

Perilaku pasif dan agresif walaupun terlihat saling bertolak belakang sebenarnya bersumber dari satu hal yang sama. Hal tersebut tidak lain adalah ketakutan atau fear.

  • Bagi orang pasif, hal ini jelas sekali, mereka takut gagal atau kuatir apa yang akan dipikirkan atau dikatakan orang lain
  • Bagi orang agresif, mereka selalu ingin membuktikan diri mereka pada orang lain. Mereka takut dianggap tidak signifikan. Sesuatu yang tidak perlu dilakukan jika Anda percaya diri.

Jadi ketika kita bertindak pasif atau agresif maka sebenarnya kita tidak percaya diri (confident). Nah, sekarang pertanyaannya adalah:

“Dibangun atas dasar apakah rasa percaya diri Anda?”

Berikut adalah hal – hal yang sering menjadi dasar rasa percaya diri kebanyakan orang:

  • Pengetahuan, mereka percaya diri karena banyak mengetahui atau ahli dalam suatu topik
  • Komunikasi, mereka percaya diri karena jago berkomunikasi, membangun relasi atau pandai berbicara
  • Penampilan, mereka percaya diri karena ganteng / cantik atau penampilannya menarik
  • Skill atau bakat, mereka percaya diri karena memiliki kemampuan atau bakat dalam suatu bidang

Boleh – boleh saja kita menjadi percaya diri karena hal – hal yang ada di atas (bahkan saya sarankan untuk membangun hal – hal tersebut supaya lebih percaya diri). Akan tetapi jangan-lah mendasarkan seluruh rasa percaya diri Anda pada satu atau beberapa hal di atas saja.

Mengapa demikian? karena jika suatu saat hal tersebut hilang maka akan runtuhlah seluruh kepercayaan diri Anda. Berikut adalah contohnya:

  • Jika Anda mendasarkan rasa percaya diri pada penampilan, bagaimana jika Anda sudah mulai berumur dan penampilan sudah tidak semenarik dulu lagi.
  • Jika Anda mendasarkan percaya diri pada skill yang Anda miliki, bagaimana jika suatu saat ada orang yang skill nya melebihi kemampuan Anda? bisa – bisa runtuhlah kepercayaan diri yang Anda miliki secara instan.

Seorang yang asertif tidak mendasarkan rasa percaya dirinya hanya pada faktor – faktor di atas. Sumber percaya diri orang yang asertif datang dari diri mereka yang otentik (genuine). 

Mereka nyaman menjadi diri mereka apa adanya. Mereka merasa “good enough” menjadi diri mereka dan menerima diri apa adanya. Inilah sebuah karakteristik yang disebut dengan otentik / genuine.

Nah, sekarang Anda sudah mengetahui tentang tiga jenis komunikator (pasif, agresif dan asertif) beserta dengan karakteristiknya. Termasuk tipe yang manakah Anda sekarang?

Mungkin saat ini Anda berada di tipe komunikator yang pasif atau agresif. Harapan saya adalah melalui artikel singkat ini kita bisa menjadi lebih percaya diri dan otentik dengan menjadi asertif. Semoga menginspirasi!

Dapatkan Update Terbaru!

Bergabunglah dengan lebih dari 8,000 subscriber lainnya dan dapatkan notifikasi langsung di email Anda tiap ada update terbaru dari blog ini. Plus anda juga akan mendapatkan konten eksklusif "21 Hari Menjadi Pribadi Menarik dan Disukai Orang"

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.