Lima Tingkatan Pembicaraan yang Perlu Anda Ketahui

Apakah Anda memiliki teman yang sudah kenal sekian lama tapi susah sekali dekat? Tiap kali bertemu masih canggung dan bingung apa yang musti dibicarakan. Ingin tahu sebab dan mengapa situasi di atas bisa terjadi? Simak dan temukan jawabannya pada artikel berikut ini.

lima-tingkatan-pembicaraan

Lima tingkatan pembicaraan yang perlu Anda ketahui

Atau pernahkah Anda melakukan pendekatan terhadap seorang lawan jenis yang Anda sukai? Anda sudah menghabiskan waktu (dan pulsa) untuk menelepon sampai berjam – jam, akan tetapi Anda merasa bahwa Anda tidak juga bertambah dekat dengan sang pujaan hati tersebut.

Setelah Anda mengetahui rahasia ini, maka Anda akan mengetahui kerangka dan apa yang harus Anda lakukan untuk bisa semakin mendekatkan relasi dan hubungan Anda. Tambah penasaran kan? 🙂

Lima Tingkatan Pembicaraan

Untuk mengetahui jawabannya, Anda harus mengetahui terlebih dahulu tentang konsep 5 tingkatan pembicaraan. Prinsip utamanya adalah supaya relasi berkembang, Anda harus meningkatkan level pembicaraan Anda.

Jikalau Anda menghabiskan waktu sekian lama berbincang-bincang akan tetapi masih tetap di level yang sama maka relasi tidak akan bertambah lebih dekat.

Berikut adalah 5 level pembicaraan yang ada berikut penjelasannya:

  1. Phatic level
  2. Factual level
  3. Evaluative level
  4. Gut level
  5. Peak level

Yuk, kita bahas satu persatu tingkatan pembicaraan yang ada di atas.

1) Phatic Level

Phatic adalah tingkatan pembicaraan yang paling rendah. Pembicaraan di tingkat ini lebih karena suatu etiket atau keharusan saja. Berikut adalah contoh-contoh percakapan yang ada di level phatic:

Deni : Halo Santi! Bagaimana kabarnya?
Santi: Ohh.. Halo Deni! Kabar baik, lama ya tidak ketemu. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?
Deni: Kabar baik juga nih.. Sedang apa di sini?
Santi: Sedang belanja saja bersama keluarga. Okay saya duluan dulu ya! Agak buru-buru nih.
Deni: Okay Santi! Sampai ketemu lain waktu!

Pembicaraan singkat di atas terjadi di level phatic, secara umum tidak ada peningkatan hubungan atau relasi yang berarti. Akan tetapi pembicaraan ini dibutuhkan untuk tetap menjaga relasi.

Anda bisa bayangkan jika Si Deni dalam contoh di atas bertemu dengan Santi akan tetapi tidak berkata apa-apa. Bisa-bisa si Santi langsung berprasangka “Si Deni itu sombong banget! Ketemu sama sekali tidak mau menyapa, pasti mentang – mentang sekarang sudah sukses nggak mau lagi menyapa kita-kita” (di sini mulai muncul persepsi yang tidak-tidak)

Jikalau Anda bertemu dengan seseorang yang Anda kenal sudah menjadi etiket untuk saling menyapa, paling tidak Anda hanya berkata “Hai” atau menyebut nama yang bersangkutan. Sekali lagi hal ini memang tidak akan meningkatkan relasi akan tetapi hanya menjaga supaya relasi Anda tidak rusak.

2) Factual Level

Factual adalah tingkat pembicaraan di mana kita saling bertukar data dan informasi. Yang dimaksud data adalah sebuah informasi yang sudah ada, Anda tidak perlu berpikir panjang lebar lagi.

Supaya lebih jelas berikut adalah contoh pernyataan dan pertanyaan dalam level factual:

Contoh dalam bentuk pertanyaan:

  • Kamu sekarang kerja di mana?
  • Biasanya waktu luang apa yang kamu lakukan?
  • Paling suka nonton film jenis apa?

Contoh dalam bentuk pernyataan:

  • Aku asli dari Semarang sih, tapi sekarang sudah tinggal di Jakarta.
  • Saya paling suka baca buku, terutama buku-buku pengembangan diri.
  • Liburan ini rencana saya mau pergi ke Bali, sekaligus mengunjungi saudara di sana

Bisa Anda cermati bahwa dalam contoh di atas, yang disampaikan adalah sebatas data dan informasi yang sudah ada. Ketika menyampaikannya Anda tinggal mengingat saja karena memang datanya sudah ada tersimpan. Ketika pembicaraan berlangsung di level ini, Anda akan mulai mengetahui lebih banyak informasi tentang lawan bicara Anda.

Hal yang sering terjadi adalah, biasanya relasi tidak berkembang karena pembicaraan hanya berhenti di level ini saja, tidak naik ke level berikutnya. Kedua orang terlibat dalam pembicaraan sekian lama akan tetapi masih sebatas hanya bertukar data dan informasi saja.

Contoh yang sering terjadi adalah ketika sedang melakukan pendekatan ke lawan jenis. Memang sih sering telepon, akan tetapi setiap telepon pertanyaannya hanya “Sudah makan belum?”, “Makan apa?”, “Setelah ini mau ngapain?” dst yang diulang – ulang.

Haha.. Ya pantas saja level hubungannya tidak berkembang lebih lanjut. Supaya hubungan berkembang Anda harus meningkatkan pembicaraan ke level berikutnya (yang akan kita bahas setelah ini).

3) Evaluative Level

Evaluative adalah tingkat pembicaraan di mana kita memberi atau bertanya tentang opini dan pendapat. Tingkatan ini lebih tinggi dari faktual, karena ketika Anda memberi atau bertanya opini maka lawan bicara harus berpikir terlebih dahulu. Berikut adalah contoh pembicaraan dalam level evaluative:

Contoh dalam bentuk pertanyaan:

  • Menurutmu bagaimana film “Batman vs Superman” tadi, bagus tidak?
  • Selama satu tahun bekerja di PT. XYZ, bagaimana kesanmu?

Contoh dalam bentuk pernyataan

  • Saya suka dengan baju dan penampilanmu ini, kamu cocok banget deh pakai setelan ini.
  • Menurut saya pelajaran yang diberikan oleh Pak Dosen A kurang menarik, isinya terlalu banyak teori

Ketika seseorang memberikan opini atau pendapatnya maka dia harus berpikir terlebih dahulu, berbeda dengan ketika hanya bertukar data pada level factual. Mengutarakan opini atau pendapat juga mulai menimbulkan resiko walaupun relatif kecil.

Misalnya saja ketika Anda mengatakan bahwa Anda tidak suka dengan film A dan ternyata lawan bicara Anda menyukainya. Contoh lain ketika Anda berpendapat kuliah dari Pak Dosen A kurang menarik dan ternyata teman Anda justru menyukainya.

4) Gut Level

Gut level adalah tingkat pembicaraan di mana hal-hal yang dibicarakan atau diungkapkan sudah berhubungan dengan perasaan. Topik pembicaraan yang dibahas juga sudah mulai bersifat lebih pribadi.

Berikut adalah contoh-contohnya:

Contoh dalam bentuk pertanyaan:

  • Bagaimana perasaanmu tadi setelah sempat dimarahin boss?
  • Selama menjalin hubungan dengan dia bagaimana kesanmu?

Contoh dalam bentuk pernyataan

  • Saya sedih karena kemarin kamu akhirnya tidak bisa hadir
  • Saya gembira sekali ketika tadi Bapak pimpinan memuji saya di depan seluruh peserta rapat

Anda bisa cermati dari contoh-contoh di atas bahwa apa yang ditanyakan atau dibagikan sifatnya berhubungan dengan perasaan atau emosi seseorang, misalnya gembira, sedih, marah, kecewa dst.

Jikalau Anda ingin hubungan Anda lebih dekat lagi dengan orang lain maka Anda juga harus memberanikan diri untuk membuka diri dan berbicara tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan.

5) Peak level

Peak level adalah level tertinggi di dalam sebuah pembicaraan, di tingkatan ini orang mulai saling membicarakan tentang perasaan terdalam mereka. Yang jelas-jelas membedakan peak level ini dengan tingkat-tingkat sebelumnya adalah topik pembicaraan yang dibahas.

Berikut adalah contoh-contoh pembicaraan di peak level:

  • Ketika kemarin kamu berkata bahwa saya kurang tanggap menjaga anak-anak, saya merasa kaget dan terluka
  • Selama ini memang sudah berapa kali pernah menjalin hubungan yang serius?

Bisa Anda cermati dari dua contoh di atas bahwa topik pembicaraan tersebut tidak akan mungkin dibicarakan dengan seseorang yang baru saja Anda kenal. Beberapa contoh topik yang termasuk pribadi adalah mengenai keluarga, pasangan hidup, impian, keuangan dst.

Hanya dengan seseorang yang benar-benar dekat Anda baru akan bisa membicarakan hal-hal yang ada di atas. Jajaki dan ketahui jugalah kapan Anda bisa benar-benar masuk dan mulai membahas topik-topik pembicaraan yang ada di peak level ini. Karena jikalau Anda terlalu cepat melangkah, lawan bicara bisa malahan merasa tidak nyaman.

Jadi itulah tadi lima tingkatan pembicaraan yang perlu Anda ketahui. Inti dari pembahasan lima tingkat pembicaraan ini adalah jika Anda ingin relasi Anda meningkat dan bertambah dekat maka yang harus Anda lakukan adalah secara bertahap mulai meningkatkan level pembicaraan.

Hal yang sering terjadi adalah orang masih berkutat di level factual saja, mereka menghabiskan sekian banyak waktu akan tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan berikutnya. Dengan mengetahui tips-tips yang sudah Anda pelajari tentunya sekarang ini Anda sudah mengetahui apa yang harus Anda lakukan berikutnya.

Segera Terbit! Buku Communication Made Easy

buku-cme

Artikel ini berasal dari penggalan buku Communication Made Easy yang segera terbit pada tanggal 21 November 2016. Informasi lebih lengkap tentang isi buku silahkan klik link berikut.

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.