Prinsip Otoritas – Bagaimana Simbol Kekuasaan Bisa Mengelabui Anda

By David Pranata | Tips Komunikasi

May 04

Dari kecil kita sudah dilatih untuk patuh pada sosok figur otoritas, misalnya saja frase: “Hormatilah Guru dan Orang Tua-mu”. Sebuah nasehat yang baik dan layak untuk diikuti, hanya saja ada sisi bahaya lain yang harus Anda ketahui.

prinsip otoritas

Prinsip Otoritas: Bagaimana Simbol Kekuasaan Bisa Mengelabui

Artikel ini adalah bagian dari seri artikel di topik psikologi persuasi. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang apa itu psikologi persuasi berikut prinsip-prinsip lain yang ada selain otoritas, silahkan simak dulu artikel utamanya di link berikut ini.

Otoritas / authority termasuk dalam salah satu dari weapons of influence, di mana ketika menggunakannya Anda seperti memiliki jalan pintas untuk membuat orang berkata “Ya” atas permintaan Anda. Saat Anda memiliki kekuasaan, power, atau otoritas akan lebih mudah untuk membuat orang lain mengikuti Anda.

Dari sejak kecil pun kita sudah dilatih untuk senantiasa patuh kepada sosok figur otoritas seperti orang tua, guru (dan ketika kita sudah besar kepada boss atau atasan 🙂 ). Ada banyak cerita – cerita yang juga mendukung penyampaian pesan moral ini, misalnya:

  • cerita ketidakpatuhan Adam dan Hawa
  • cerita ketaatan Nabi Abraham
  • legenda rakyat si Malin Kundang

Patuh dan taat adalah sesuatu yang baik, tanpanya maka dunia ini akan kacau balau karena semua orang bertindak semaunya sendiri.

Bahaya Mengikuti Figur Otoritas

Akan tetapi ada bahaya ketika kepatuhan ini menjadi sebuah kepatuhan buta. Kita mengikuti figur otoritas tanpa pernah mempertanyakan benar atau tidak arahan yang diberikan. Ada satu istilah bahasa Jawa yang menggambarkan hal ini dengan pas yaitu “Opo jarene Boss” (Ikuti saja apa maunya si Boss).

Mengapa ini bisa terjadi?

Sebab utama adalah karena kita malas berpikir dan mencari aman. Kita berkata pada diri sendiri “Ahh.. kan sudah diputuskan sama si boss. Lagian nanti kalau salah dan ada apa-apa itu kan bakal jadi tanggung jawabnya dia”

Salah satu sebab terbesar human error dalam kecelakaan pesawat terbang adalah otoritas pilot yang terlalu mutlak. co-pilot dan anggota crew yang lain hanya mengikuti perintah dari kapten pilot tanpa mempertanyakan.

Padahal si pilot bisa saja salah kan? Namanya juga manusia.

Oleh karena itu pelatihan di sistem penerbangan modern mengajarkan bahwa otoritas pilot tidaklah mutlak. Si copilot dan crew lain dilatih untuk berani angkat suara dan mempertanyakan jika ada ada keputusan pilot yang dianggap tidak pas.

Untuk cerita-cerita dan studi kasus dalam hal ini silahkan saja Anda baca di buku Outliers karangan si Malcolm Gladwell.

Dan yang lebih buruk lagi adalah ketika kita patuh dan mengikuti simbol-simbol kekuasaan atau otoritas semata. Jadi belum tentu orang tersebut benar-benar memiliki otoritas yang asli, mereka hanya memiliki simbolnya. Bisa jadi Anda malah terkelabui.

Apa yang Dimaksud dengan Simbol Otoritas?

Simbol otoritas adalah hal-hal atau benda yang dimiliki oleh seseorang yang membuat Anda berpersepsi bahwa dialah yang memegang otoritas. Daripada bingung, berikut langsung saya berikan contohnya 🙂

Jikalau Anda sedang mengemudi mobil dan tiba-tiba di tengah jalan ada seseorang yang menyetop mobil Anda, apakah Anda akan berhenti?

Sebelum Anda menjawab akan saya berikan dua skenario berikut:

  • (a) yang menyetop Anda berpakaian biasa
  • (b) yang menyetop Anda berseragam polisi

Haha.. apakah jawaban Anda berbeda untuk dua skenario di atas?

Di skenario (a) mungkin Anda tidak akan berhenti, malahan Anda bertanya-tanya “Siapa sih orang itu? Enak saja mau numpang gratis!” Atau bahkan Anda berprasangka buruk bahwa dia akan melakukan tindak kriminal pada Anda.

Sedang di skenario (b) besar kemungkinannya Anda akan berhenti, bahkan sambil bertanya-tanya “Waduhh… tadi saya ada melanggar apa ya?”. Lebih besar kemungkinan Anda akan patuh di skenario (b) dibandingkan skenario (a).

Apa yang menyebabkan perbedaan dua skenario di atas? Yup benar sekali.. baju yang dikenakan oleh si orang yang menyetop Anda. Pakaian termasuk salah satu simbol otoritas.

Padahal belum tentu simbol otoritas ini adalah otoritas yang betulan, bisa jadi di skenario (a) adalah polisi yang pakai baju preman. Atau yang di skenario (b) adalah orang biasa yang habis pulang dari karnaval perayaan hari Kartini 🙂

Apa Saja yang Termasuk Dalam Simbol Otoritas?

Berikut adalah contoh-contoh simbol otoritas yang sering digunakan. Lihatlah contoh-contoh yang ada berikut ini dalam dua sudut pandang.

Yang pertama: ketika Anda meyakinkan orang lain, pastikan Anda tidak sampai kekurangan simbol otoritas ini sehingga akhirnya dipandang tidak kredibel (dan akhirnya gagal meyakinkan orang lain).

Yang kedua: ketika ada orang lain mencoba membujuk Anda, tanyakan pada diri Anda sendiri dahulu “Apakah benar dan masuk akal yang dia minta ataukah saya hanya sekedar tunduk pada simbol otoritas saja?”

Yup, langsung saja ini adalah tiga kategori simbol otoritas yang ada:

(1) Titel

Titel bisa membuat seseorang mendapat kredibilitas ekstra dan membuat Anda lebih patuh kepada pribadi yang bersangkutan.

Dalam dunia pendidikan ada titel sarjana teknik, sarjana ekonomi, magister manajemen, professor dst. Dalam dunia kerja ada titel manajer, supervisor, general manager, direktur dll. Plus masih banyak contoh lagi yang lain di masing-masing konteks pekerjaan atau situasi yang ada.

Ingat kasus seorang pelajar SMP yang kena razia polisi saat perayaan kelulusan yang sempat ramai di media sosial? Nah, sebenarnya waktu itu dia mencoba menggunakan prinsip otoritas ini dengan menggunakan titel jenderal dari salah seorang kerabatnya (hanya saja tidak berhasil 🙂 ).

(2) Pakaian

Pakaian adalah hal termudah yang bisa dilihat dari diri seseorang. Anda bisa membuat seseoang berubah 180 derajat hanya dengan merubah pakaian yang Anda kenakan.

Di universitas tempat saya mengajar, ada sebuah project yang mengharuskan mahasiwa untuk praktek menjual sesuatu. Banyak dari mereka datang ke saya dan mengeluh karena banyak calon pembeli tidak percaya apa yang mereka lakukan (haha.. mungkin wajah mereka rata-rata mencurigakan ya).

Saran saya waktu itu hanyalah.. coba nanti lain kali ketika berjualan gunakan jas almamater. Dengan menggunakan jas almamater secara tidak langsung mereka meminjam kredibilitas dari universitas. Dan benar saja hanya dengan mengubah hal simpel ini, mereka akhirnya lebih mudah menjual.

(3) Aksesoris

Aksesoris adalah segala sesuatu yang kita kenakan, misalnya saja jenis handphone yang Anda pakai, kendaraan yang Anda gunakan bahkan merk bolpoin yang Anda pakai.

Rumah saudara saya pernah kemalingan hanya gara-gara si pencuri jago dalam memanfaatkan penggunaan aksesoris ini. Ceritanya ketika keadaan rumah kosong (hanya ada pembantu di rumah), tiba-tiba datanglah seseorang berpakaian rapi dan naik Toyota Fortuner.

Dia mengaku bahwa sudah diminta pemilik rumah untuk mengukur ruang kamar yang akan direnovasi. Tanpa merasa curiga si pembantu-pun membukakan pintu rumah. Dan pencuri pun akhirnya dengan leluasa mengambil beberapa barang berharga yang ada di rumah.

Itu semua hanya karena si pencuri menggunakan Toyota Fortuner. Hayoo… jikalau dia datangnya naik sepeda motor butut kira-kira bakal dibukain pintu rumah oleh si pembantu nggak?

Nah, jadi itu tadi adalah simbol – simbol otoritas yang perlu Anda perhatikan sekaligus waspadai. Waktu Anda hendak meyakinkan orang lain, cek terlebih dahulu apakah pakaian dan aksesoris yang Anda kenakan mendukung (atau justru malah membuat orang lain meragukan Anda)?u

Atau di sisi lain jikalau ada orang lain mendekati dan mencoba membujuk Anda, tanyakan terlebih dahulu pada diri “Apakah betul ini orang ini dan apa yang dikatakannya bisa dipercaya ataukah saya sekedar patuh pada simbol otoritas saja?”

Pertanyaan: “Adakah simbol otoritas lain yang mungkin terlewatkan oleh saya?” Silahkan sharingkan pendapat atau pengalaman Anda di kolom komentar yang ada di bawah.

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.

  • Soleh Lutiana

    iya juga ya pak…

    pencopetan di angkot2 misalnya, mereka berpakaian rapi, sepatu mengkilat, bawa tas kantoran, dan wajah bersih.

    melihat orang seperti ini, kan gak nyangka kalau ini pencopet, ya akhirnya kita gak sadar, entah bagaimana tau2 dompet sama hp lenyap. Banyak kasus seperti ini pak..

    jadi apa y, mereka itu menyerang kelemahan pikiran kita, jadinya kita gak sadar.

    apakah memang defaultnya semua orang itu seperti itu ya pak? klau melihat yang bersih, rapi, bermobil, wajah bersih, penampilan oke, dsb kita menganggapnya sebagai orang baik?

    • Halo Pak Soleh,

      Iya Pak, pencopet memang berpakaian seperti itu supaya korban tidak menyangka. Penampilan kan memang satu hal yang paling mudah menyusun persepsi kita. Kita tidak akan menyangka kalau seseorang yang pakaiannya rapi, pakai tas kerja, sepatu bagus itu adalah seseorang pencopet.