6 Pro-Kontra dalam Public Speaking yang Harus Anda Ketahui – yang Nomor 4 Mengejutkan Banyak Orang

By Surja Wahjudianto | Tips Presentasi

Jul 02

Banyak ahli kesehatan mengatakan bahwa kita mesti minum air putih 2 liter tiap hari demi menjaga keseimbangan cairan dan menjamin fungsi metabolisme. Tapi tahukah Anda bahwa sebagian pakar kesehatan mengatakan bahwa nasehat itu salah besar?

Pro dan kontra dalam public speaking

Artikel adalah guest posting dari associate trainer saya yaitu Surja Wahjudianto. Surja adalah seorang trainer di bidang presentasi / public speaking yang baru – baru ini tergabung dengan training company saya. Anda juga bisa mengikuti tulisan Surja yang lain di blog-nya www.surja-wahjudianto.com

Mereka mengatakan keharusan minum 2 liter air per hari itu hanyalah mitos, karena tidak didukung dengan riset yang valid. Tubuh tidak butuh air sebanyak itu. Semakin banyak air yang dikonsumsi, semakin berat ginjal bekerja.

Hal ini karena air tidak hanya sekedar lewat saja di ginjal, melainkan harus diproses. Kalau ginjal dipaksa bekerja keras terus menerus dampaknya justru buruk buat kesehatan, bukannya menyehatkan.

Nah, bingung kan mana yang benar? 🙂 Orang awam jadi ragu yang mana yang benar dan mana yang tidak.

Okay.. perbedaan pendapat tentang seberapa banyak minum airnya sekian dulu deh. Saya juga tidak tahu mana yang benar, plus blog ini juga bukan blog tentang ilmu kesehatan. Jadi mengapa sebenarnya saya membahas mitos tersebut?

Karena ternyata dalam bidang public speaking pun ada pendapat-pendapat yang berbeda satu-sama lainnya. Satu pakar mengatakan kita harus melakukan A, sementara pakar lainnya mengharuskan B. Hal ini tentu membingungkan bagi orang awam atau yang baru mempelajari public speaking.

Dalam sesi-sesi pelatihan saya, banyak pertanyaan yang diajukan juga seputar pro-kontra ini. Para penanya kerap kali bingung mana yang benar dan mesti diikuti.

Nah, agar Anda tidak ikut-ikutan bingung juga, berikut 6 pro-kontra dalam public speaking yang kerap dijumpai. Di bawah masing-masing pro-kontra ini saya berikan saran-saran saya yang sebaiknya Anda lakukan untuk meredakan kebingungan Anda.

1. Berlatih di depan cermin vs Jangan berlatih di depan cermin

Yang pro mengatakan bahwa dengan berlatih di depan cermin Anda bisa melihat sendiri bagaimana Anda dilihat oleh audiens. Raut muka, kontak mata, gerakan tangan, dan postur tubuh Anda. Dengan demikian Anda bisa melakukan koreksi apabila ada gerakan atau ekspresi yang salah atau kurang tepat.

Yang kontra beralasan bahwa berlatih di depan cermin membingungkan. Kita tidak melihat diri kita sendiri saat membawakan presentasi, tapi melihat dan menghadap audiens. Akan lebih baik kalau berlatih dengan menghadap sesuatu yang lain dan membayangkannya seolah-olah sedang berhadapan dengan audiens.

Saran saya: Menggunakan cermin tetap perlu, tapi sesekali saja. Gunakan, misalnya, untuk memastikan apakah Anda sudah tersenyum dan menampilkan wajah yang ramah atau tidak. Juga untuk mengetahui apakah gerakan tangan Anda natural atau justru berlebihan.

Selebihnya gunakan sebagian besar waktu Anda untuk berlatih dengan menghadap sesuatu yang menyerupai audiens (misalnya meja dan kursi di rumah) dan visualisasikan bahwa Anda sedang menghadap dan berbicara kepada audiens. Ini membantu Anda beradaptasi dan menguasai keadaan saat nanti benar-benar berada di atas panggung.

2. Tulis skrip presentasi secara lengkap vs Jangan tulis skrip presentasi secara lengkap

Bagi yang pro, menulis skrip presentasi secara lengkap membantu Anda menyusun kata-kata dengan lebih baik dan rapi. Dengan susunan kata-kata yang baik dan rapi penyampaian maksud Anda jadi lebih akurat. Menulis skrip juga membantu Anda memastikan bahwa pesan yang Anda sampaikan konsisten di semua bagian, dari awal sampai akhir.

Yang kontra khawatir dengan menulis skrip Anda jadi cenderung menghafal kata demi kata. Menghafal kata demi kata ini sangat berbahaya karena Anda bisa lupa dan berhenti di tengah-tengah jalannya presentasi.

Saran saya: Jika Anda termasuk orang yang bisa mengungkapkan gagasan secara spontan, lupakan langkah menulis skrip ini. Anda cukup menuliskan poin-poin pentingnya saja dan mengembangkannya melalui improvisasi.

Namun, jika Anda kurang bisa menyusun dan menyampaikan gagasan dengan baik secara spontan, Anda wajib menulis skrip presentasi Anda, dari awal hingga akhir. Meskipun dalam penyampaiannya Anda tidak boleh menghafalkan skrip tersebut kata demi kata karena berisiko membuat Anda stuck.

3. Tentukan gerakan tangan dan langkah vs. Biarkan gerakan tangan dan langkah mengalir alami

Gerakan tangan dan langkah yang diatur membantu Anda menekankan pesan-pesan penting tertentu, kata yang pro. Dengan mengaturnya Anda bisa lebih menyakinkan dalam menyampaikan pesan Anda dan memberi efek emosi yang dalam kepada audiens.

Yang kontra beralasan bahwa mengatur gerakan tangan dan langkah membuat Anda jadi tampak tidak alami dan kaku. Hal ini malah memberi efek buruk bagi kualitas presentasi Anda.

Saran saya: Meski saya condong ke gerakan yang alami, saya juga setuju bahwa beberapa gerakan mesti dikontrol. Misalnya, kerap terjadi pembicara yang terlalu sering melangkah dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, tanpa dia sadari. Bolak balik dan terus menerus, seperti harimau yang sedang gelisah di dalam kandang. Gerakan repetitif ini sebetulnya malah menjadi gangguan alih-alih bantuan.

Untuk mengatasinya Anda mesti ingat aturan move with purpose, bergeraklah dengan tujuan. Bergeraklah ke kanan bila memang Anda perlu untuk bergerak ke kanan dan bergeraklah ke kiri bila Anda merasa memerlukannya. Walau ada kalanya Anda tetap akan bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa tujuan, pastikan Anda tidak melakukannya dengan tempo yang terlalu cepat.

4. Boleh menyampaikan presentasi lebih lama vs Jangan menyampaikan presentasi lebih lama

Yang pro berargumen bahwa menyampaikan presentasi lebih lama dari semestinya itu baik. Hal ini seperti memberi bonus kepada audiens. Mereka menganalogikan dengan konsumen yang membayar untuk 1 barang tetapi kita beri 2 barang. Tentu konsumen tersebut jadi gembira.

Yang kontra mengatakan bahwa memperlama waktu presentasi membuatnya jadi membosankan. Disamping itu ia juga memberi kesan di mata audiens bahwa manajemen waktu Anda buruk. Memperlama waktu presentasi juga menimbulkan anggapan bahwa Anda tidak menghargai waktu audiens karena mereka juga ada urusan lain yang mesti dikerjakan.

Saran saya: Anda harus selalu ingat bahwa hal yang paling disukai audiens dari suatu presentasi adalah ketika presentasi itu usai. Fakta ini mengejutkan banyak orang. Ini terdengar lucu dan menggelikan, tetapi ini benar adanya.

Kalau tidak percaya, lain kali ketika Anda duduk di bangku audiens dan mendengar pembicara yang mengulur-ulur waktu presentasinya, cermati perasaan Anda. Pasti Anda merasa bosan, bukan?

Jadi, menyampaikan presentasi lebih lama dari waktu yang ditentukan adalah ide yang buruk.

5. Ucapkan terima kasih vs Jangan mengucapkan terima kasih saat membuka dan menutup presentasi

Yang kontra ucapan terima kasih berpendapat bahwa ucapan terima kasih membuat presentasi menjadi bertele-tele. Apalagi jika pembicara menyebut satu-persatu orang-orang penting yang hadir. Ucapan terima kasih seringkali juga disampaikan dengan kata-kata dan nada yang mudah ditebak sehingga terdengar membosankan.

Yang pro ucapan terima kasih berpendapat bahwa ini adalah soal etika dan tata krama. Dengan mengucapkan terima kasih Anda mengungkapkan bahwa Anda menghargai semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara tersebut. Anda juga menghargai kehadiran dan perhatian hadirin di acara tersebut.

Saran saya: Sah-sah saja mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi. Namun sampaikan ucapan terima kasih ini dengan singkat dan tidak bertele-tele. Akan tetapi, di forum-forum tertentu yang memang tidak memerlukan adanya ucapan terima kasih maka hindari melakukannya.

6. Bawa catatan vs Jangan membawa catatan saat menyampaikan presentasi

Membawa catatan bisa menyelamatkan Anda dari rasa malu akibat lupa di tengah jalannya presentasi, menurut yang pro. Membawa catatan ibarat memiliki polis asuransi yang menjamin kelangsungan dan kelancaran presentasi Anda. Jaminan ini membantu Anda memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat.

Yang kontra berpendapat bahwa membawa catatan menandakan Anda kurang siap dan terkesan tidak profesional. Catatan juga membuat Anda tidak fokus kepada audiens. Di samping itu, catatan membuat frekuensi kontak mata Anda dengan audiens jadi berkurang yang menyebabkan hubungan Anda dengan audiens jadi kurang kuat.

Saran saya: Bawa catatan kalau Anda memang merasa memerlukannya. Yang paling tahu kebutuhan Anda adalah Anda sendiri. Apalagi kalau catatan itu memberi Anda rasa aman dan menambah percaya diri. Tetapi, agar Anda tidak terlalu tergantung dan sebentar-sebentar melihat catatan, berlatihlah sering-sering sebelumnya.

Itulah 6 pro-kontra dalam public speaking yang kerap dijumpai di luar sana. Semoga setelah pembahasan ini Anda tidak lagi bingung yang mana yang mesti diikuti dan yang mana mesti diabaikan. Selamat mengejutkan diri Anda sendiri dengan kualitas presentasi Anda yang meningkat pesat.

Pertanyaan: Adakah mitos atau tips public speaking yang masih membingungkan Anda? Jika ada, silahkan tuliskan di kolom komentar jadi bisa kita bahas bersama – sama.

About the Author

Surja Wahjudianto adalah pelatih presentasi kreatif. Pengalamannya mengajar di lembaga pendidikan Bahasa Inggris terkemuka dan menjuarai beberapa kompetisi public speaking mengantarkannya menekuni bidang pelatihan ini. Dia mengamati bahwa banyak presentasi di luar sana yang kualitasnya perlu banyak perbaikan. Karenanya dia bercita-cita membantu sebanyak mungkin orang mengejutkan diri mereka sendiri dengan kualitas presentasi mereka yang meningkat pesat. Dapatkan artikel-artikel dan karya-karya Surja lainnya di surja-wahjudianto.com