Sering Miskomunikasi? Ini Dia Sebabnya…

Pernahkan Anda mengalami miskomunikasi? entah itu di keluarga atau di tempat kerja? Yuk kita pelajari sebab mengapa hal ini bisa terjadi (dan cara mengatasinya)!

miskomunikasi

Miskomunikasi – terjadi di mana saja

Miskomunikasi terjadi ketika sebenarnya hal yang Anda inginkan “A” akan tetapi yang ditangkap oleh orang lain adalah “B”. Akibatnya adalah hasil akhir yang tidak sesuai dengan keinginan Anda.

Berikut adalah contoh sederhana bagaimana miskomunikasi bisa terjadi di keluarga kami:

Suatu hari putri kami, Gwen, sedang makan kacang dari sebuah toples. Dia mengambil kacang dari dalam toples langsung menggunakan tangannya.

Istri saya yang melihat hal ini lalu memberi instruksi “Gwen kalau makan kacang ambilnya pakai sendok” (di mana dalam toples memang sudah ada sendok kecil untuk mengambil kacangnya).

Apa yang dilakukan Gwen setelah itu? Dia mengambil kacang dengan sendok dan langsung menyuapkannya ke mulut 🙂

Di sinilah terjadi sebuah miskomunikasi:

  • yang diharapkan istri saya: mengambil kacang dengan sendok dan diletakkan di tangan
  • yang diterima anak saya: mengambil kacang dengan sendok dan langsung disuapkan ke mulut

Lalu dalam kasus di atas, siapakah yang salah?

Hmm… menurut saya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Itulah yang disebut proses komunikasi, sering ketika mengirimkan pesan apa yang dikirim ternyata tidak sama denan yang diterima oleh lawan bicara. Bahkan sering kita sama sekali tidak menduga jika pesan kita bisa diinterpretasikan dengan sangat berbeda oleh lawan bicara.

Kenyataan di Jaman Sekarang Ini

Sekarang kita hidup di era digital di mana banyak sekali distraksi di sekitar kita. Kita hidup di era handphone dan gadget mendominasi sehingga kemampuan kita untuk fokus jadi berkurang drastis.

Sering ketika mencermati sesuatu kita tidak benar-benar membaca dan memperhatikan dengan teliti. Hanya melihat atau mendengarkan sekilas saja kita sudah mengambil kesimpulan. Hal inilah yang makin sering menimbulkan miskomunikasi.

Demikian juga di dalam dunia kerja, ketika mengadakan training biasanya saya mengirim pre-training survey untuk mengetahui masakah apa yang terjadi di perusahaan. Ingin tahu masalah apa yang menduduki peringkat pertama dan selalu muncul di apapun tipe organisasinya?

Tidak lain lagi adalah…. miskomunikasi antar karyawan dalam perusahaan.

Nah, setelah ini mari kita bahas bersama-sama bagaimana cara mengatasi masalah miskomunikasi dengan mempelajari sebuah konsep berikut ini.

Empat Channel Komunikasi

Banyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya tiap kali berkomunikasi, kita selalu mengkomunikasikan empat channel berikut ini:

4 channel komunikasi

Empat channel komunikasi

“Waduh Pak.. apa ya itu, kok kesannya rumit sekali?”

Tenang saja sebenarnya hal ini simpel kok, berikut saya berikan penjelasannya:

1) Content

Konten adalah arti harafiah (apa adanya) dari perkataan yang Anda ucapkan. Ketika Anda menguasai suatu bahasa otomatis Anda akan menangkap maknanya secara langsung, tidak ada lagi yang perlu ditafsirkan.

Sebagai contoh, jikalau profesi Anda adalah seorang sekretaris dan boss mendekati Anda sambil berkata “Dinda, hari Senin saya sudah pergi ke Jakarta ya!” 

Kalau dilihat dari segi konten, berarti perkataan tersebut artinya hanya – hari Senin si boss akan pergi ke Jakarta. Dari empat channel komunikasi, bagian inilah yang paling mudah ditangkap oleh lawan bicara. Mereka tidak perlu lagi menebak-nebak maksudnya.

Akan tetapi dalam komunikasi, ini bukanlah satu-satunya cara menyampaikan maksud kita, yuk simak channel-channel berikutnya.

2) Meta

Meta adalah arti dari sebuah perkataan setelah diberikan konteks yang berlaku saat itu. Untuk bisa mengartikan meta (maksud sebenarnya, seringkali tersembunyi / tidak terucap) maka Anda harus mengerti konteks percakapan saat itu.

Dengan menggunakan contoh yang sama sebelumnya (boss berkata bahwa hari Senin dia sudah pergi ke Jakarta), jika yang Anda tangkap hanyalah content maka kurang lebih inilah respon Anda:

  • Okay Pak, hati – hati di jalan ya!
  • Siap Pak! Jangan lupa kalau kembali oleh-olehnya ya!

Dan setelah itu Anda terheran-heran mengapa boss sering marah-marah dan menganggap Anda tidak kompeten 🙂

Oleh karena itu kita juga perlu tangkap content dan meta dalam komunikasi boss tadi. Dalam konteks di atas, bisa jadi yang dimaksud si boss dengan perkataan “Hari Senin dia akan ke Jakarta” adalah:

  • Tolong dicek segala sesuatu tentang jadwal, pesawat atau hotel dia di Jakarta, sudah beres atau belum
  • Segala pekerjaan atau persetujuan yang membutuhkan si boss secara langsung tolong diselesaikan sebelum hari Senin

Di sinilah pentingnya kita bisa mengenali dan mengerti konteks yang berlaku saat itu. Jikalau pun ada ketidakjelasan siap-siaplah untuk mengklarifikasi dan bertanya.

3) Emotion

Dalam mengutarakan sesuatu kita juga mengungkapkan emosi yang ada dalam diri kita. Komunikator yang jago akan sensitif menangkap emosi yang dikeluarkan bersama dengan kata-kata sehingga bisa menebak maksud sesungguhnya.

Misalnya saja Anda sedang pulang ke rumah dari bekerja dan berkata pada istri “Bagaimana kabarnya hari ini?” 

Jikalau istri Anda merespon dengan berkata “BAIK-BAIK SAJA!” dengan suara keras dan nada meninggi, tentunya Anda bisa menangkap bahwa apa yang dia katakan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Sebaiknya Anda bertanya dan menggali lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi jika Anda hanya menangkap content-nya saja (channel yang pertama) dan menganggap bahwa segala sesuatunya baik-baik saja, bisa jadi tidak lama kemudian istri akan marah – marah dan komplain “Mengapa sih kamu tidak pernah mengerti saya” 🙂

Tips: kita bisa mengenali emosi dengan juga memperhatikan intonasi suara lawan bicara

4) Status

Cara Anda berbicara tanpa sadar juga akan mengkomunikasikan status Anda. Gaya komunikasi ketika menghadapi satu orang pasti berbeda dengan ketika menghadapi orang lain.

Contohnya saja cara Anda berbicara dengan atasan pasti berbeda dengan cara Anda berbicara dengan rekan kerja. Dan akan berbeda lagi ketika berbicara dengan pembantu rumah tangga Anda.

Saya sering mendapat cerita bahwa banyak generasi muda yang mengalami kesulitan menyesuaikan gaya bicara (status) ketika berbicara dengan orang lain. Di saat mereka berbicara dengan wakil perusahaan (misal waktu interview atau mengajukan proposal) gaya komunikasi mereka masih seperti ketika berkomunikasi dengan teman akrab mereka.

Seorang komunikator yang baik akan bisa dengan cepat menyesuaikan gaya komunikasi-nya dengan berbagai macam tipe orang yang berbeda. Atau dengan kata lain dia bisa berkomunikasi dengan fleksibel.

Nah, itu tadi empat channel komunikasi yang otomatis akan terkirim setiap kali kita berkomunikasi dengan orang lain.

Miskomunikasi sering terjadi karena kita tidak sadar akan adanya channel-channel ini, yang kita tangkap hanyalah sekedar content (channel komunikasi pertama) saja.

Lalu Bagaimana Menghindari Miskomunikasi

Jikalau benar-benar murni tidak terjadi miskomunikasi saya kira susah untuk benar-benar terelisasi. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan adanya miskomunikasi. Berbekal pengetahuan dari 4 channel komunikasi di atas, berikut adalah hal-hal yang bisa kita lakukan:

Bagi si pengirim pesan

  • Sedapat mungkin komunikasikan apa yang Anda maksudkan secara langsung (menggunakan content / channel yang pertama) sehingga orang lebih mudah mengartikan
  • Mintalah feedback / klarifikasi dari lawan bicara sehingga Anda bisa memastikan pesan Anda ditangkap dengan benar

Bagi si penerima pesan

  • Sadari bahwa dalam komunikasi kita juga harus membaca konteks, emosi dan status dari lawan bicara. Jangan hanya mengartikan secara harafiah saja
  • Jikalau ada hal yang Anda ragukan segeralah klarifikasi atau bertanya sehingga tidak salah tangkap

Jadi itu tadi artikel singkat tentang bagaimana miskomunikasi bisa terjadi (dan cara mengatasinya). Harapan saya dengan artikel singkat ini Anda bisa menjadi komunikator yang lebih baik.

Untuk tips-tips lain yang lebih detil dan komprehensif seputar komunikasi interpersonal, Anda bisa simak buku terbaru saya berikut ini.

Buku Communication Made Easy

cme-single

Buat Diri Anda Menjadi Pribadi Menarik dan Disukai Orang dengan Cepat dan Mudah!

Communication Made Easy adalah buku yang membahas tentang bagaimana cara berkomunikasi untuk membina relasi serta meyakinkan orang lain melalui persuasi dan negosiasi.

Dapatkan segera di toko buku terdekat di kota Anda atau bisa juga via online melalui tombol berikut ini

Info Detil Buku
Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.