Simple – Cara Membuat Presentasi Anda Mudah Dimengerti

Pernahkah anda….. “Datang ke sebuah acara presentasi, kuliah atau seminar, duduk di sana selama 2 jam penuh dan pulang tanpa mengerti apapun yang disampaikan oleh si pembicara?”

simple

Mayoritas orang yang saya tanya pernah mengalami hal serupa di atas. Mereka telah mengorbankan waktunya yang berharga akan tetapi tidak berhasil mengerti materi yang disampaikan pembicara. Nah.. sekarang pertanyaannya adalah “Apa yang membuat sebuah presentasi mudah dimengerti?”

Jawabannya hanya ada satu kata yaitu simpel. Yup.. jika presentasi anda simpel maka audiens akan lebih mudah mengerti dan memahami. Simpel ini juga adalah prinsip pertama supaya pesan anda mudah diingat dan melekat di benak audiens. Untuk mengetahui keseluruhan prinsipnya, anda bisa baca artikel saya yang ini.

Nah.. apa saja kriteria simpel itu? berikut adalah beberapa kriterianya:

  • Tidak menggunakan kata atau istilah yang susah dimengerti
  • Materi yang dibahas sesuai dengan tingkat kemampuan audiens
  • Jumlah poin-poin yang disampaikan tidak terlalu banyak
  • Disertai dengan contoh-contoh dan penerapan nyata

Jadi jika anda ingin presentasi anda simpel sehingga mudah dimengerti orang, maka inilah yang harus anda lakukan:

  • Gunakanlah bahasa sederhana yang mudah dimengerti
  • Ketahuilah audiens anda, sehingga materi yang anda sampaikan juga sesuai dengan tingkat pemahaman mereka
  • Batasi jumlah poin yang hendak anda sampaikan
  • Berilah contoh-contoh dan penerapan yang konkrit

Akan tetapi mengapa ketika berpresentasi justru banyak presenter yang presentasinya ruwet dan susah dipahami? Salah satu sebabnya adalah justru banyak orang takut untuk menjadi simpel. Mereka beranggapan bahwa jika presentasinya simpel maka akan terlihat biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Kalau presentasinya rumit, penuh dengan istilah-istilah yang sulit kan bisa terlihat keren dan high-tech 🙂 padahal yang akhirnya terjadi adalah audiens tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan.

Sebab lain mengapa kebanyakan presentasi ruwet adalah presenter terkena the curse of knowledge. Saking jago dan terbiasanya mereka dalam satu topik, mereka jadi lupa bagaimana rasanya ketika menjadi orang awam yang tidak terbiasa mendengar topik atau istilah-istilah tersebut.

Contohnya adalah: bagi orang yang terbiasa di dunia saham istilah spread, option, candle, PE ratio adalah hal yang umum. Saking umumnya bisa-bisa ketika berbicara dengan orang awam, mereka tetap menggunakan istilah-istilah tersebut. Sedang bagi orang awam yang tidak pernah mengenal dunia saham, istilah dan hal-hal tersebut bagaikan bahasa dari planet lain.

Dengan mengerti kriteria presentasi simpel yang sudah saya berikan di atas niscaya anda akan terhindar dari keruwetan berpresentasi. Dan supaya presentasi anda lebih mudah lagi dimengerti oleh audiens berikut saya bagikan dua lagi tips. Apa saja tips tersebut? Yuk.. kita simak bersama-sama:

Ketahuilah dengan jelas inti topik / poin yang ingin anda sampaikan

Dalam sebuah presentasi anda harus benar-benar mengerti hal apa yang paling penting yang harus anda sampaikan. Atau dengan kata lain anda harus mengerti poin presentasi anda dengan jelas.

Ada sebuah cara bagus untuk mengetes apakah anda sudah benar-benar mengtahui poin presentasi anda dengan jelas. Cara ini disebut dengan elevator pitch. Analoginya adalah sebagai berikut: misalkan anda diberikan waktu 20 menit untuk menjelaskan ide anda kepada si boss. Dan tiba-tiba saja si boss ada kepentingan mendadak sehingga anda cuma diberikan waktu untuk menjelaskan ide anda dalam lift turun ke tempat parkir (yang waktunya tidak sampai 1 menit).

Dalam kondisi tersebut jika anda tidak tahu inti / poin penting dari presentasi anda, sudah pasti anda akan gelagapan dan tidak tahu apa yang musti disampaikan. Akan tetapi jika anda tahu dengan jelas inti / poin dari presentasi ands, hal ini tetap bukan merupakan masalah untuk anda.

Kejelasan akan inti dan poin-poin penting dari presentasi akan mampu membuat presentasi anda menjadi simpel. Anda juga akan mengerti hal-hal mana yang merupakan prioritas dari presentasi anda.

Gunakan metafora dan analogi

Metafora dan analogi adalah teknik menjelaskan dengan menggunakan hal/konsep yang sudah diketahui sebelumnya oleh audiens. Akan lebih mudah bagi audiens untuk menerima hal baru jika anda mampu mengaitkannya dengan konsep yang sudah ia mengerti sebelumnya. Contoh: misal anda diminta menjelaskan apa itu hardisk pada orang yang gaptek.

Akan kurang membantu jika anda menjelaskan bahwa hardisk itu adalah sebuah barang yang biasanya terbuat dari logam, bentuknya kotak dan biasanya disematkan di dalam komputer.

Akan lebih membantu jika anda menggunakan analogi bahwa sebetulnya hardisk itu seperti sebuah gudang, fungsinya untuk menyimpan sesuatu. Hanya saja jika gudang yang disimpan adalah barang, maka untuk hardisk yang disimpan adalah data.

Lalu apa bedanya metafora dan analogi Pak?

Metafora adalah perbandingan singkat, bahkan sering bisa dikiaskan dalam satu kata.

Contoh: misal saya berkata “Teman saya itu sifatnya seperti Paman Gober”

Apa yang terbayang di kepala anda tentang sifat teman saya? Yup.. benar sekali. Anda akan berkata bahwa teman saya itu pelitnya bukan main (hahaha.. kecuali jika anda tidak pernah tahu siapa itu tokoh Paman Gober dalam komik Donal Bebek)

Sedang analogi sifatnya lebih kompleks, biasanya untuk menunjukkan hubungan sebab akibat dan relasi. Contoh hardisk dan gudang yang saya berikan di atas adalah contoh dari analogi.

Dengan menggunakan metafora dan analogi maka presentasi anda niscaya akan lebih simpel dan lebih mudah dimengerti lagi.

Pertanyaan: “Apakah anda masih memiliki definisi atau tips tentang presentasi yang simpel menurut anda?” Silahkan tuliskan di form komentar yang ada di bawah ini.. plus nantikan prinsip cara membuat presentasi anda melekat di benak audiens yang kedua pada artikel berikutnya

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.

  • Ivan Fajri

    Sangat membantu sekali artikel ini. Tapi saya masih bingung, saya seorang Mahasiswa, sempat saya coba presentasikan materi yang saya bawakan (tugas dari dosen) di depan audience (Mahasiswa/wi) dengan bahasa yang tinggi (pertama kali saya paparkan materi saya) karena 99% audience adalah seorang karyawan swasta yang bisa di bilang cukup elit, 90% dari mereka yang mendengar, jawabannya : “Tidak Mengerti”.
    Saya coba bawakan (presentasi ke-2) dengan bahasa yang jauh dari kata “orang yang memiliki intelektual tinggi / sama2 awam” dan hasilnya?? “Masih Sama”.
    Dan hampir seluruh isi kelas (audience teman satu kelas) mereka bilang “Kata-kata mu membuat saya harus naik meja agar bisa mengerti” ada lagi yang bilang “kata-kata mu berputar berkali2 padahal intinya hanya satu” dan yang lain “kata-kata mu susah saya pahami”.
    Padahal, tidak ada satupun dari dosen yang merasa tidak mampu mencerna kata saya. Mereka bahkan memuji saya : “Kamu bergelut di dunia bisnis bidang apa?” Ada lagi yang bilang : “Wow… (terkejut) penjelasan yang sangat bagus sekali dari Ivan (menunjukan ekspresi di depan audience) melanjutkan dari pemaparan Mas Ivan …bla bla bla… seperti itu, sangat jelas sekali”

    Sering saya bertanya pada diri saya setelah presentasi, “Apa yang salah dengan saya??” “Saya sudah menunjukan kebodohan saya dengan bahasa yang sangat rendah” “saya sudah maksimalkan perform saya dengan contoh nyata yang saya rasa sudah mereka alami dari penjelasan saya tapi kenapa masih tidak ada yang mengerti??”

    Terkadang saya merasa frustasi tapi anehnya Dosen tak satupun merasa tidak puas yang terlihat dari ekspresi wajah, tubuh, dan ucapannya. Mereka malah sering minta bantuan kepada saya untuk memberikan contoh dari pemaparan yang dosen berikan kepada teman 1 kelas saya.

    Bagaimana menurut anda?? Saya merasa dilema dengan teman2 saya.
    Terima Kasih…