6

Ribuan Orang telah Mendapat Manfaat dari Konten Artikel Ini – Apakah Anda yang Berikutnya?

Jika anda membaca tulisan ini karena tertarik apa yang disampaikan oleh judul artikel di atas, maka anda telah terkena fenomena yang disebut social proof 🙂 Apa itu social proof? Mari kita simak bersama-sama.

social-proof

Social proof termasuk salah satu senjata psikologi persuasi yang sudah pernah saya bahas di artikel sebelumnya. Istilah gampangnya dari social proof ini adalah prinsip ikut-ikutan. Dalam kondisi ketidaktahuan atau kurangnya informasi orang akan mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Berikut contohnya:

Bayangkan anda berada di sebuah ruangan mengerjakan test bersama puluhan peserta yang lain. Sedang asyik-asyiknya mengerjakan soal tiba-tiba anda melihat ada asap tipis mulai keluar dari ventilasi yang ada di ruangan. Dalam hati anda bertanya “Apa ini tanda-tanda kebakaran ya?”

Apa yang akan anda lakukan berikutnya?

Apakah anda akan diam saja? lari terbirit-birit meninggalkan ruangan? atau berteriak-teriak “Kebakaran! kebakaran!” dengan panik?

Test serupa dilakukan oleh Bib Latane dan John Darley di tahun 1970, hasilnya adalah anda tidak melakukan ketiga hal di atas. Yang anda lakukan adalah anda melihat dulu ke peserta yang lain:

  • Apakah mereka lari? Jika peserta yang lain lari, anda juga ikut lari
  • Apakah mereka diam saja? Jika mereka diam saja, anda juga diam saja (walau dalam hati ya deg-degan)

Itulah jalan pintas yang kita ambil dalam ketidaktahuan atau kurangnya informasi. Kita akan melihat apa yang dilakukan oleh orang lain dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Kartun di bawah ini sangat tepat menggambarkan fenomena ini.

social-proof

Contoh-contoh fenomena lain yang terjadi karena social proof ini adalah:

  • Dalam memilih menu makanan di restoran, anda pilih yang tandanya best seller
  • Anda menonton sebuah film karena film tersebut berhasil menjadi box office
  • Most popular post di blog ini semakin sering dan semakin banyak dibaca orang

Bahkan efek social proof ini bisa membuat orang yang semula tidak tertarik untuk membeli sesuatu berakhir membeli sesuatu. Seringkali menjadi berbeda dengan yang lain itu tidak enak, kita ingin mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Tidak percaya? Ini dia cerita dari pengalaman pribadi saya.

Suatu hari saya bersama 4 orang teman dari Toastmasters pergi ke luar kota untuk memperkenalkan program ini. Sebelum sesi kami, ada sesi lain yang diisi oleh seorang pembicara dengan topik parenting, atau lebih spesifiknya tentang fathering: bagaimana menjadi ayah yang baik.

Di akhir sesi, pembicara ini juga berjualan buku-nya (juga tentang menjadi ayah yang baik) dan bertanya kepada kita satu persatu apakah kita berminat untuk membeli.

Nah.. anda perlu tahu dulu background saya pada waktu itu, di saat itu saya masih single dan belum menikah (apalagi punya anak). Sehingga di awal sebetulnya saya sudah memutuskan saya tidak membeli buku itu.

Saat itu saya kan masih belum membutuhkannya, lagian jika saya membeli bisa-bisa teman-teman saya yang lain menatap saya dengan pandangan curiga.

Akan tetapi.. apa yang terjadi berikutnya?

Teman saya yang pertama, ketika ditawari berkata “Ya” (maklum dulunya dia mantan baby sitter, tentunya dia suka dengan topik-topik seperti ini)

Teman saya yang kedua juga berkata “Ya” (maklum dia sudah berkeluarga, pasti dia ingin memberi buku itu ke suaminya supaya bisa menjadi ayah yang baik)

Teman saya yang ketiga berkata “Ya”… dan teman saya yang keempat juga berkata “Ya”.

Dan saya adalah yang nomor lima. Melihat semua teman saya membeli, jadi ketika ditawari akhirnya saya berkata “Eeee……… Iya deh, saya beli” @_@

Dalam perjalanan pulang saya komplain kepada mereka “Gara-gara kalian ya.. saya akhirnya beli buku ini”. Dan di situ terungkaplah fenomena yaitu ternyata teman saya yang ketiga dan keempat mengaku membeli karena teman yang pertama dan kedua membeli.

Sedemikian ampuhnya prinsip social proof ini. Dan prinsip ini berlaku universal, aplikasinya sangat luas baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dunia marketing & sales.

Berikut saya coba berikan contoh-contohnya dalam berbagi konteks yang ada:

(1) Menaikkan Jumlah Sumbangan

Pernah nggak ketika ada seseorang yang berduka (mungkin di kantor atau di kampus) dan anda membantu dengan memberikan sumbangan? yang biasanya dalam amplop putih terus diedarkan itu lo.

Ingin menaikkan jumlah sumbangannya? Ini caranya….

Sebelum amplopnya diedarkan, isi dulu dengan beberapa lembar uang pecahan besar (Rp 50.000 dan Rp 100.000 🙂 ), setelah itu baru anda edarkan.

Orang yang membukanya pasti berpikir “Wuiihh.. orang-orang sebelumnya nyumbang besar-besar nih” (dan akhirnya mereka pun mengikuti nominal itu). Silahkan anda bandingkan jika di awal amplopnya anda isi dengan uang receh dan pecahan seribu atau dua ribu rupiah.

Saya yakin bedanya pasti seperti bumi dan langit.

(2) Gunakan Testimonial

Ketika anda menawarkan produk dan jasa anda, jangan lupa menunjukkan testimoni dari mereka yang telah menggunakan produk jasa anda dan berhasil. Efeknya akan bertambah kuat jika testimoni yang calon pelanggan baca memiliki profil serupa dengan mereka.

Ketika membaca mereka akan berpikir “Wah.. ini ada testimoni dari si Jono, dulunya dia juga pengangguran seperti saya sekarang. Jika dia bisa sukses karena beli program ini, tentunya saya juga bisa”

(3) Tunjukkan Banyak Orang Telah Bergabung

Anda bisa menunjukkan bahwa sudah ada banyak orang telah bergabung dan mengikuti ajakan anda. Jika sudah ada banyak orang yang telah mencoba dan membuktikan hasilnya tentunya produk/jasa ini bagus, hebat, enak, aman, terpercaya (dan segala macam atribut baik yang lain).

Berikut adalah contoh-contoh kalimat yang menggunakan prinsip ini:

  • Sembilan dari sepuluh wanita Indonesia menggunakan….
  • Bergabunglah dengan ribuan orang lainnya yang telah merasakan manfaat….

Itu dia tadi fenomena psikologi persuasi tentang social proof, yaitu sering dalam ketidaktahuan atau kurangnya informasi kita mengambil jalan pintas dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Dalam dunia marketing dan sales prinsip ini sering sekali digunakan. Silahkan mencermati apa yang ada di sekeliling anda, maka anda akan mulai melihat sebuah pola prinsip ini di sana.

Pertanyaan: “Tentunya di halaman blog ini ada prinsip social proof yang saya gunakan secara halus, ada yang tahukah di bagian mana itu? Siapa yang bisa menebak silahkan sharing di kolom komentar ya!
Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.

  • Gara-gara ilmu psikologi persuasi ini, para marketer sekarang menjadi lebih keren cara jualannya 🙂

    termasuk mas Yudhis dengan cara jualan yang keren seperti ini >> produkimindo.com/thegraph

    • Haha… dalam internet marketing psikologi persuasi sudah seperti sebuah kewajiban Pak Titus.

      Di link yang diberikan Pak Titus sudah jelas ada scarcity (kelangkaan), dikasih coundown timer segala 🙂 Thank you for sharing ya Pak

  • Soleh Lutiana

    cuci gudang itu juga termasuk persuasif bukan pak?

    Sekarang jadi ngeh, dan lebih waspada kalau ada diskon2 hehe.
    di Gramedia itu pak, hampir semua buku di kasih lebel Best Seler :D, padahal buku2 itu jarang masuk berita baik elektronik atau sosmed

    • Halo Pak Soleh, cuci gudang, diskon atau cashback itu juga salah satu strategi untuk menarik emosi pembeli. Coba Bapak cermati tiga pilihan ini, mana yang lebih menarik:
      (A) Baju harga Rp 100.000
      (B) Baju harga Rp 200.000, tapi ada diskon 50%
      (C) Baju harga Rp 200.000, ada promo cashback Rp 100.000
      Pilihan B dan C akan terlihat lebih menarik dibanding pilihan A (padahal bayarnya ya sama aja Rp 100.000)

      Buku dilabeli best seller itu adalah salah satu cara untuk menggunakan social proof. Kalau memang best seller sih gak papa, tapi ada juga yang tidak best seller tapi menggunakannya supaya bukunya tambah laris. Haha.. yang aneh ada yang masih cetakan pertama tapi sudah ada labelnya best seller