Experiential Learning Explained

Metode pembelajaran yang banyak saya gunakan dalam training adalah experiential learning (atau sering juga disebut dengan game based learning). Untuk mengetahui apa sebenarnya pendekatan ini, keunikan, keunggulan beserta kelemahannya, silahkan simak tulisan saya berikut ini.

Experiential Learning – Apa Itu?

Apa itu Experiential Learning?

Secara umum experiential learning didefinisikan sebagai:

Process of learning through experience, and more specifically defined as “learning through reflection of doing”

Yaitu proses belajar dari pengalaman. Pembelajarannya sendiri akan banyak didapat dari hasil refleksi ketika menjalani pengalaman tersebut.

Dalam ruang training pengalaman ini didapatkan dari game yang memang didesain khusus untuk pembelajaran tersebut (oleh karena itu pendekatan ini juga disebut dengan game based learning).

Jadi jika kita mengacu pada definisi, proses refleksi dan sharing pengalaman memegang peranan penting dalam pembelajaran experiential learning ini. Jika tidak ada sesi refleksi dan sharing bisa jadi aktifitas / game yang berlangsung hanya lewat begitu saja tanpa ada makna / pembelajaran yang berarti.

Tapi.. Apa Bedanya dengan Game Training pada Umumnya?

Mayoritas trainer menggunakan game sebagai ice breaking (tujuannya hanya untuk menyegarkan suasana atau mengakrabkan antar peserta). Contohnya adalah pernahkah Anda menghadiri training dan diminta menari chicken dance, pijit – pijitan atau game tangkap jari? ­čÖé Itu adalah contoh game sebagai ice breaking.

Game ice breaking ini sendiri sering tidak berkorelasi dengan materi utama atau tidak mengajarkan sesuatu. Tujuannya murni hanya untuk menyegarkan peserta supaya tidak mengantuk.

Sedang game pada pembelajaran experiential learning memang didesain khusus untuk menyampaikan materi pembelajaran. Esensi pembelajarannya justru berada pada game tersebut (dan proses refleksinya).

Summary Perbedaan

Jadi secara singkat berikut adalah perbedaan game pada umumnya dengan game experiential learning

  • Game biasa tujuannya adalah untuk ice breaking atau penyegaran
  • Game experiential learning tujuannya adalah untuk menyampaikan pembelajaran

Mengapa pembelajaran ini bisa efektif?

Satu quote yang bisa menggambarkan keefektifan metode pembelajaran dengan menggunakan experiential learning adalah:

How You Do Anything is How You Do Everything

Seringkali ketika bermain game, apa yang kita pikirkan dan lakukan saat itu mencerminkan juga cara berpikir dan bertindak dalam dunia nyata. Atau singkat kata, perilaku ketika bermain game = perilaku sesungguhnya

  • Oleh karena itu pembelajaran dengan experiential learning ini sangat cocok untuk merefleksikan cara berpikir dan bertindak kita selama ini.
  • Selain itu pembelajaran menggunakan experiential learning juga cocok digunakan untuk men-test pemahaman atau aplikasi sebuah konsep.

Ketika Anda mengajarkan sebuah konsep belum tentu peserta mengerti atau mampu menerapkan konsep tersebut. Dengan menggunakan game maka Anda bisa mentest pemahaman serta bagaimana peserta mengaplikasikan konsep tersebut secara praktek.

Empat Fase Jalannya Game Experiential Learning

Secara umum dalam sebuah game experiential learning akan ada 4 fase, berikut adalah penjelasannya:
  1. Briefing awal – fasilitator akan menjelaskan semua peraturan dan mekanisme game yang ada
  2. Game running – fase di mana game berlangsung, aktifitas game sendiri bisa berbagai macam mulai dari komunikasi, negosiasi, sampai dengan membangun, origami atau kegiatan fisik
  3. Feedback points – fase di mana fasilitator mengentikan game di tengah – tengah untuk memberikan umpan balik atau untuk memperkenalkan unsur baru yang akan mengubah dinamika permainan
  4. Debrief & sharing – fase di mana fasilitator memberikan makna pembelajaran game dan peserta melakukan refleksi dan sharing pembelajaran yang mereka dapatkan dari pengalaman bermain game tadi

Contoh Game Experiential Learning

Mungkin sampai di sini Anda masih belum memiliki gambaran tentang seperti apa game experiential learning itu berlangsung, berikut adalah contoh – contoh game experiential learning yang saya miliki. Anda bisa cek lebih detil keterangan dan mekanisme yang ada dengan klik ke tiap game yang bersangkutan.

TRADE TO WIN

TRADE  TO WIN adalah sebuah game komunikasi yang mengajarkan peserta untuk mengenali mindset dan gaya komunikasi mereka. Simak info detilnya di dengan klik gambar di samping.

MOVEMENT MOMENTUM

MOVEMENT MOMENTUM adalah sebuah game komunikasi yang mengajarkan bagaimana mencetuskan, menyampaikan dan meyakinkan ide Anda kepada orang lain. Simak info detilnya di dengan klik gambar di samping.

SPEED CHAMPIONS

SPEED CHAMPIONS adalah game yang mengajarkan proses komunikasi dan koordinasi dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.. Simak info detilnya di dengan klik gambar di samping.

PRIMAL DRIVE

PRIMAL DRIVE adalah sebuah game yang mengajarkan bagaimana berkomunikasi dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama sambil di saat yang sama tetap memperhatikan juga kebutuhan pribadi. Simak info detilnya di dengan klik gambar di samping.

Keunggulan dan Kelemahan Experiential Learning

Sebagai sebuah metode pembelajaran tentu saja metode experiential learning ini ada keunggulan dan kelemahannya. Berdasar pengamatan saya pribadi berikut adalah keunggulan dan kelemahan metode ini:

Keunggulan Metode Experiential Learning

  • Pembelajaran menjadi lebih engaging dan immersive. Peserta tidak hanya sekedar pasif mendengarkan, melainkan benar – benar aktif terlibat dan melakukan aktivitas. Apalagi jika Anda menggunakan setting ruangan, kostum dan musik yang sesuai, peserta bisa seakan – akan dibawa ke sebuah pengalaman yang baru
  • Pembelajaran bisa multidimensi. Sebuah game bisa mengajarkan banyak hal sekaligus. Contoh game primal drive yang saya miliki bisa mengajarkan tentang prioritas, decision making, komunikasi dan negosiasi dalam satu game
  • Poin pembelajaran bisa tidak terduga. Satu peserta dengan peserta yang lain bisa saja mendapat poin pembelajaran yang berbeda, bahkan sering tak terduga.┬á
  • Pembelajaran didapat melalui refleksi. Peserta bisa mendapat sendiri poin pembelajarannya melalui refleksi bukan karena sekedar diberi nasehat. Self awareness melalui refleksi ini sering lebih mengena jika dibanding belajar melalui mendengar pemaparan saja

Kelemahan Metode Experiential Learning

  • Membutuhkan banyak persiapan dan peralatan. supaya sebuah game bisa menjadi immersive, maka banyak faktor – faktor yang harus Anda persiapkan misalnya saja
    • Mekanisme pendukung game. misal: form dan kartu yang dibutuhkan untuk jalannya game
    • AV (audio video). background musik akan memegang peranan penting untuk membangun suasana
    • Props dan peralatan. misalnya saja: setting ruangan, perlengkapan pendukung
    • Crew, sebuah game yang kompleks akan membutuhkan crew untuk mensupport jalannya game
    • Kostum, baik untuk fasilitator dan crew
  • Membutuhkan waktu yang relatif lebih panjang. Sebuah game yang kompleks bisa membutuhkan waktu berjam – jam supaya bisa berjalan dengan baik dan peserta mendapatkan pembelajaran. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk setting ruangan dan peralatan
  • Tergantung dengan jumlah peserta. Ada game yang membutuhkan minimal sejumlah peserta supaya dinamika / kompetisinya bisa mulai berjalan. Akan tetapi sebaliknya ada juga game yang jumlah pesertanya tidak bisa terlalu banyak karena terkendala mekanisme atau waktu
  • Butuh test, test dan test. Supaya mekanisme game berjalan dengan baik Anda perlu melakukan testing beberapa kali untuk melihat apakah flow-nya sudah mengalir dengan baik. Apakah pembelajaran yang Anda inginkan berhasil tersampaikan?

Itu dia tadi konsep pembelajaran dengan menggunakan konsep experiential learning yang sekarang ini banyak saya terapkan dalam training – training yang saya bawakan. Melihat hasilnya sungguhlah positif, maka ke depannya saya akan lebih banyak lagi menciptakan game – game dalam training saya.

Harapan saya adalah suatu hari saya bisa bertemu dengan Anda untuk memainkan game – game dalam training yang saya adakan.