Tiga Langkah Menghadapi dan Menerima Kritik

By David Pranata | Tips Komunikasi

Jul 09

Pernahkah Anda menerima kritik dari orang lain? Cara Anda menerimanya akan menentukan apakah Anda akan mendapat manfaat maksimal dari kritik tersebut atau tidak.

Menghadapi dan menerima kritik

Menghadapi dan menerima kritik

Saya yakin Anda tentu pernah menerima kritik dari orang lain, entah itu berkaitan dengan pekerjaan, kepribadian atau tentang sesuatu yang anda lakukan.

Nah, bagaimana rasanya ketika Anda menerima kritik? 🙂

Haha.. saya yakin anda akan menjawab “Nggak enak buanget Pak…., rasanya ingin lari atau malahan balas mengkritik.” Saya kira wajar jika anda menjawab seperti itu, tidak ada orang yang hobinya menerima kritik.

Padahal sebenarnya kritik yang tepat dan diberikan oleh orang yang tepat justru bisa menjadi masukan berharga. Kritik tersebut akan menjadi sebuah umpan balik untuk mengembangkan diri kita.

Lalu bagaimana cara menghadapi dan menerima kritik? Mungkin cerita saya berikut bisa membantu.

Sebetulnya saya sudah menyelesaikan draft buku Speak with Power sejak bulan Desember tahun lalu. Setelah saya serahkan ke penerbit, di awal Januari saya mendapat kabar bahwa draft saya telah disetujui untuk diterbitkan. Horeee!

Sambil menunggu antri editing, saya pun berburu endorsement dan testimonial dari teman, guru, mentor ataupun figur berpengaruh yang sesuai dengan topik buku saya ini.

Satu hari setelah saya mengirimkan draft endorsement, saya menerima satu email balasan dari guru sekaligus figur yang saya kagumi. Intinya adalah dia sudah membaca habis draft buku dan merasa bahwa pada beberapa bagian pembahasannya kurang detil dan mendalam.

Sehingga dia menyarankan bahwa lebih baik buku itu disempurnakan dan dibahas lebih mendalam lagi sehingga pembaca bisa mendapat manfaat lebih.

Kira-kira bagaimana perasaan Anda ketika menjadi saya?

Pertama-tama saya langsung merasa defensif, “Mana bisa kurang detil dan mendalam? Justru konten saya itu keunggulannya itu karena pembahasannya mendalam. Pasti ini dia membacanya sekilas aja, nggak dibaca betul-betul sampai habis.”

Sambil mengomel saya pun membaca ulang draft saya dan berkata dalam hati “Masa tulisan bagus kaya gini dibilang kurang detil ckckck.. ”

Tapi sambil membaca saya mulai melihat dan merasakan “Loo.. yang bagian ini isinya kok cuma ini saja”, “Laa.. terus yang bab ini kok cuma singkat aja ya.” Dan wajah saya pun mulai berubah.

Draft buku itu sudah saya tulis mulai 2 tahun yang lalu (karena malas dan tertunda-tunda sampai lama 🙂 ) Dalam waktu dua tahun tentunya sudah banyak yang berubah. Plus memori saya juga sudah tercampur aduk apa yang saya tulis di blog dan apa yang saya tulis di buku.

Saya pun menyadari bahwa untuk menghasilkan karya yang benar benar bagus saya harus merevisi dan menambah isi buku ini. Saya kemudian mengkontak penerbit untuk menunda sementara proses buku saya (walaupun sebenarnya sudah disetujui). Sayapun kembali ke laptop saya dan menulis revisi buku Speak with Power ini.

Saya alokasikan tiga minggu full untuk menulis ulang dan merevisi buku. Saya kesampingkan semua project lain dan hanya fokus di satu hal ini saja.

Hasilnya adalah buku yang sudah direvisi beserta 75 halaman ekstra pembahasan presentasi yang detil, mendalam dan sulit anda temukan di buku-buku presentasi dan public speaking lainnya.

Setelah draft revisi ini saya berikan kepada dia, endorsement pun turun dan siap menghiasi halaman endorsement buku Speak with Power 🙂

Jadi itu adalah cerita pribadi saya ketika menghadapai kritik yang langsung ditujukan ke saya. Saya berhasil menggunakan kritik untuk menghasilkan karya yang lebih baik dan bermanfaat baik untuk saya sendiri maupun untuk anda.

Jadi berikut adalah tiga langkah menghadapi dan menerima kritik sesuai dengan ilustrasi cerita di atas:

(1) Sadari dan terimalah reaksi awal Anda

Apa reaksi awal Anda ketika menerima kritik? Kebanyakan dari kita akan merasa defensif bahkan ada yang langsung menyerang balik. Jikalau anda merasa demikian, janganlah merasa berdosa. Hal ini lumrah adanya.

Dalam cerita di atas ketika pertama kali menerima kritik, hal-hal inilah yang ada di pikiran saya:

  • Mungkin dia bacanya sekilas saja, tidak benar-benar dibaca sampai habis
  • Mungkin dia kurang mengerti tentang ilmu presentasi
  • Memang buku ini saya buat seperti itu, biar tidak terlalu sulit untuk orang awam

Sekali lagi jika di awal anda berpikiran atau merasa defensif, ini adalah sesuatu yang normal. Tidak ada seorangpun yang suka disalahkan (walaupun memang salah).

Akan tetapi walaupun anda merasa defensif, bukan berarti anda juga harus bereaksi defensif.

Berilah diri Anda waktu untuk merespon. Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh lawan bicara sampai selesai, tidak perlu membela diri atau mengungkapkan alasan. Anda hanya cukup mendengar.

Setelah itu tinjau, lihat atau sekedar pertimbangkan apa yang disampaikan oleh lawan bicara anda. Singkat kata, refleksikanlah hal tersebut sejenak.

(2) Cermati siapa yang memberikan kritik dan apa tujuannya

Ada kritik yang sifatnya membangun dan ada kritik yang sifatnya menjatuhkan. Anda harus bisa membedakannya.

Ketika ada orang lain memberikan saran atau kritik kepada Anda, cermatilah dulu siapa dia. Dalam cerita saya, yang memberikan kritik adalah seorang yang sudah berpengalaman menulis puluhan buku laris. Sedang saya sendiri barusan akan menerbitkan buku pertama 🙂 jadi tentunya dia tahu banyak hal yang tidak saya ketahui.

Anda juga harus mengetahui tujuan orang lain memberikan kritik. Ada yang memang ingin melihat anda berkembang dan maju, ada juga yang sekedar menjadi orang yang suka berkomentar atau bahkan melemahkan. Cermati tujuan mereka.

Dalam cerita saya, tujuan kritik adalah untuk membuat saya lebih maju dan menghasilkan karya yang lebih baik. Bahkan dia menyediakan waktu untuk bertemu dan berkonsultasi (haha.. yang tentu saja langsung saya manfaatkan).

Jadi di sinilah tahap di mana anda memilah-milah kritik yang masuk. Bukan berarti Anda harus menerima dan mengikuti tiap kritik yang masuk. Lihatlah terlebih dahulu siapa yang memberikan kritik dan apa tujuannya.

(3) Tentukan apa yang akan Anda lakukan

Anda juga tidak harus 100% mengikuti apa yang disampaikan oleh orang lain. Jikalau ini anda lakukan bisa-bisa Anda tidak bergerak ke mana-mana karena selalu mengikuti apa yang disampaikan orang lain.

Dalam cerita saya, tentunya juga tidak bijaksana jika saya langsung melempar draft awal ke tempat sampah, membatalkan persetujuan dari penerbit, dan menghabiskan satu tahun lagi untuk menulis ulang.

Karya, tindakan atau perilaku yang sempurna 100% sesuai keinginan Anda atau si pemberi kritik tidak akan pernah ada. Yang saya lakukan adalah saya berikan deadline pada diri saya sendiri tiga minggu untuk memperbaiki dan menyempurnakan tulisan. Setelah itu apapun hasilnya, buku akan tetap saya terbitkan.

Nah, itulah dia tiga langkah menerima dan menghadapi kritik yang saya alami sendiri. Dengan mempraktekkannya anda akan mampu merubah kritik menjadi sarana umpan balik dan faktor pendorong untuk menjadi pribadi lebih baik maupun menghasilkan karya yang lebih baik.

Hasil dari pengalaman saya mempraktekkan tiga langkah di atas adalah.. buku Speak with Power revisi 1 (haha yang revisi 0 tidak pernah terbit, hanya ada di hardisk saya saja).

Berisi pengalaman dan pengetahuan saya selama belajar dan praktek presentasi, buku ini siap membantu anda untuk memberi pengaruh lebih, stand out of crowd dan disukai oleh teman, boss dan (bahkan) mertua anda.

Untuk mendapatkannya Anda bisa mengunjungi link berikut ini.

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"