Mengapa Saya Tidak Menulis Konten, Membuat Video & Memberi Training dalam 6 Bulan Terakhir Ini

By David Pranata | Inspirasi

Sep 23

Sudah 6 bulan terakhir ini saya TIDAK menerbitkan konten baru dan memberikan training. Ada apa gerangan? Di artikel berikut ini Anda akan menemukan jawabannya.

Mengapa saya tidak menulis konten 6 bulan terakhir

Jika Anda sudah sekian lama mengikuti blog ini, mungkin Anda mengetahui bahwa sejak 6 bulan terakhir saya tidak pernah mengupdate konten – konten yang ada di website. Di social media juga sama sekali tidak ada posting baru.

Email notifikasi konten baru yang biasanya saya kirim secara rutin ke alamat email juga sudah tidak ada lagi. Bukan itu saja selama 6 bulan terakhir saya juga absen memberikan training, baik itu training yang sifatnya tatap muka atau online.

Jadi ada apakah gerangan?

Mungkin Anda menduga bahwa saya sedang sembunyi di bunker bawah tanah karena ketakutan pandemi corona. Anda bisa jadi berprasangka saya sudah alih profesi, tidak lagi menjadi trainer & penulis. Anda berpikir “Bisa jadi sekarang Pak David sudah ganti profesi menjadi dokter, perawat atau mungkin sibuk nyalon jadi walikota”

Bukan itu ya jawabannya 🙂 Berikut adalah alasan sebenarnya.

Jawaban singkatnya adalah selama 6 bulan terakhir saya mendampingi istri saya, Niken, yang menderita breast cancer (kanker payudara). Dalam 6 bulan terakhir tersebut saya memutuskan untuk berhenti total dari segala pekerjaan dan fokus hanya untuk mendampingi dia.

Sebenarnya istri saya sendiri sudah terdiagnosa sejak 2 tahun terakhir ini (atau tepatnya awal terdiagnosa di bulan Mei 2018). Saat pertama kali terdiagnosa sudah berada di stadium 3A.

Kanker payudara stadium 3A berarti ketika ditemukan ukuran tumor sudah lebih dari 5cm dan telah menyebar pada kelenjar getah bening sekitar.

Notes: saya akan menulis lebih lanjut tentang breast cancer dari pandangan seorang awam / pendamping pada artikel – artikel saya mendatang.

Lalu Bagaimana Setelah Terdiagnosa?

Istri saya, Niken, memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan payudara (mastectomy), waktu itu kita melakukan operasinya di Singapura. Bersyukur saat itu kita memiliki asuransi kesehatan yang bisa mengcover seluruh biayanya.

Setelah operasi, Niken memutuskan untuk TIDAK melakukan pengobatan lanjutan secara medis (kemoterapi, radiasi atau terapi hormon). Keputusan ini yang mungkin mendatangkan banyak pertanyaan dari teman atau keluarga dekat.

Mereka bertanya – tanya “Mengapa tidak kemo?” Banyak yang mengira Niken ketakutan akan efek sampingnya atau tidak mau kehilangan rambut / gundul. Hmm… bukan itu jawabannya.

Niken memutuskan untuk tidak melakukan kemoterapi karena itu adalah pilihannya. Sebuah keputusan yang dia pegang dengan teguh sampai akhir. Dia lebih memilih menjalani pengobatan secara natural (meditasi, naturopati, life energy treatment).

Foto keluarga kami – April 2019

Selama menjalani proses tersebut Niken juga memilih untuk tidak menyebarkan berita / informasi tentang penyakit yang dideritanya. Dia tidak ingin orang lain mengasihani atau bertanya – tanya tentang kondisinya.

Oleh karena itu banyak teman dan keluarga yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya yang dialami Niken, mereka melihat dia menjalani hidup dan beraktivitas seperti biasa. Hanya beberapa teman dan keluarga dekat yang mengetahui apa yang sebenarnya dialami oleh Niken.

Setelah itu Apa yang Terjadi?

Pada awal tahun 2020, sel kanker yang ada di badan Niken muncul kembali dan sudah ber-metastasis (ditemukan berada di bagian / organ tubuh yang lain). Jika sel kanker muncul kembali dan bermetastasis maka otomatis ini adalah kondisi stadium 4.

Pengobatan secara medis untuk kanker stadium 4 tujuannya bukanlah kuratif (menyembuhkan), akan tetapi lebih ke paliatif (memperpanjang umur / memperbaiki kualitas hidup).

Kondisi fisik Niken juga sudah mengalami penurunan, dia menjadi lebih mudah capek. Beraktivitas ringan saja sudah membuat dia kelelahan.

Untuk itulah akhirnya pada Februari 2020 kami memutuskan untuk berangkat ke HanaRa Wellbeing Center di Bandung. Di awal kami berencana untuk berada di sana selama 1 bulan.

Foto kita saat – saat awal berada di HanaRa – Bandung

HanaRa sendiri adalah sebuah tempat untuk belajar dan menjalani pengobatan secara holistik. Dasar teori yang banyak digunakan digunakan di HanaRa adalah tentang vibrasi, life energy dan meridian.

Satu hal yang justru banyak kami dapatkan saat berada di sana adalah kami bersama – sama belajar tentang kehidupan. Bisa saya katakan kami di sana menjalani sekolah kehidupan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat untuk sesama.

Sebelum berangkat saya berpikir bahwa saya akan menjadi pendamping Niken sambil bekerja. Di saat – saat senggang saya akan membuat konten dan mempersiapkan materi training. Lalu sesekali saya akan pergi sebentar selama 1 – 2 hari untuk memberikan training.

Itu yang awalnya ada di pikiran saya.

Saat bergabung saya baru tahu bahwa menjadi pendamping di sana bukan hanya sekedar bantu – bantu saja melainkan juga harus ikut berpartisipasi dalam programnya secara total. Full ikut program dan protokol yang ada 🙂

Konsep di HanaRa adalah vibrasi itu menular. Kondisi emosi dan psikologi kita akan saling mempengaruhi mereka yang ada di sekitar. Sebagai pendamping, saya juga harus berada dalam vibrasi yang baik untuk mampu berfungsi sebagai donor vibrasi.

Jadi akhirnya sayapun berhenti total dari pekerjaan, tidak lagi membuat konten ataupun memberikan training. Apakah ini hal yang mudah?

Tentu saja tidak. Di awal rasanya berat banget untuk ikhlas.

Saya harus menelepon klien untuk membatalkan jadwal training yang sudah confirmed, meminta maaf dan meminta mereka mencari trainer pengganti. Saya juga harus menarik mundur semua proposal yang sudah saya perjuangkan ke calon klien.

Jadi terus terang… ketika tidak lama kemudian pandemi corona datang dan membuat semua kegiatan training offline / tatap muka menjadi tidak memungkinkan untuk dilakukan, saya justru menjadi lebih mudah ikhlas 🙂 Dalam hati saya berpikir “Momennya berarti tepat saya berada di sini, toh juga tidak bisa memberikan training” 

Tapi Mengapa Akhirnya Sampai 6 Bulan?

Yang di awal kita berencana berada di Bandung 1 bulan, akhirnya menjadi 3 bulan karena kondisi Niken yang masih belum memungkinkan untuk kembali. Rencana 3 bulan-pun akhirnya menjadi 6 bulan, karena kita tidak bisa pulang saat ada pandemi corona.

Enam bulan berada di HanaRa untuk belajar dan berlatih sungguh membuat kita berdua menjadi pribadi yang lebih baik. Kita menjadi lebih mudah untuk ikhlas, menikmati dan menghargai apa yang kami miliki, bersyukur atas anugerah-Nya dan lebih tulus melakukan sesuatu demi manfaat untuk sesama.

Saya & Niken di Hanara – 8 Agt 2020

Bisa dikatakan kami mendapat bonus ekstra honeymoon kedua selama 6 bulan di HanaRa Bandung. Selama di sana kami hanya tinggal berdua saja, anak pun kami titipkan pada papa dan kakak Niken di Surabaya.

Hal yang di awal saya anggap sebagai suatu kewajiban untuk mendampingi istri akhirnya bisa menjadi hadiah terindah baik bagi saya maupun Niken. Relasi kami menjadi bertambah baik dan lebih saling mengerti satu sama lain. Saya benar – benar bersyukur bisa bersama Niken selama 6 bulan tersebut.

Bagaimana Setelah Itu?

Pada tanggal 27 Agustus 2020 lalu Niken dipanggil oleh Tuhan. Dia meninggal dunia dengan tenang di rumah setelah selama 2 tahun berjuang menghadapi kanker yang dideritanya.

Saat ini tinggal saya dan anak saya, Gwen, yang berusia 6 tahun. Kami bersyukur bisa mengenal Niken sebagai istri dan Mommy. Perasaan kami berdua bukanlah bersedih karena sudah ditinggalkan akan tetapi bersyukur karena sudah diberikan waktu mengenal dan bersama Niken.

Saya & Gwen mengunjungi HanaRa – 13 Sept 2020

Alasan mengapa saya menuliskan cerita ini adalah karena cerita tentang apa yang dialami Niken sangatlah indah dan inspiratif. Menurut saya sangat layak untuk dibuatkan buku atau bahkan sebuah film. Menulis kata dan kalimat di blog ini adalah langkah awalnya.

Tujuan saya berbagi adalah semoga Anda bisa mendapat manfaat dari tulisan ini. Entah itu membuat Anda lebih ikhlas dalam menjalani hidup, atau lebih mampu menikmati dan bersyukur atas kondisi Anda saat ini.

Pada artikel – artikel berikutnya saya akan banyak bercerita tentang kisah saya dan Niken selama 6 bulan terakhir, sambil tidak ketinggalan juga tetap memberikan kepada Anda konten – konten seputar topik komunikasi dan presentasi (yang sejak awal memang menjadi topik utama blog ini).

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"