4 Gaya Komunikasi Saat Menghadapi Situasi yang Tidak Diharapkan

By David Pranata | Tips Komunikasi

Mar 04

Tidak selamanya situasi akan berjalan sesuai dengan harapan Anda. Saat terjadi situasi yang tidak diharapkan, secara umum ada 4 gaya komunikasi yang biasa dilakukan orang. Tipe yang manakah Anda?

Anda bisa mempelajari konten artikel berikut melalui youtube video yang ada di atas, atau bisa juga dengan membaca intisari / naskah-nya di bawah ini.

4 Gaya Komunikasi

Ide konten ini bermula dari kejadian yang terjadi di sore hari beberapa waktu yang lalu. Kita tinggal satu rumah bersama dengan papa dan kakak-nya Niken. Sore itu Gwen sedang nonton film kartun kesukaannya My Little Pony.

Tiba – tiba kakaknya Niken datang untuk mengajak Gwen nonton film dokumenter tentang cara memasak happy di Jepang. Saya yang di sebelahnya mendengar, “Boleh tuh Gwen, kalau Little Pony kan sudah sering banget, sampai itu saja kan sudah mengulang. Coba tonton yang ini, bisa belajar sesuatu yang baru!”

Singkat cerita mereka berdua akhirnya nonton, tetapi beberapa menit kemudian Gwen kembali. Ambruk di sofa, wajahnya sudah jelek, mewek mau nangis. Lo kenapa? “Huee… maunya tetap nonton Little Pony, tapi TV nya malah dipakai Auntie nonton masak – masak,” rengek Gwen.

Respon saya, “Ya musti ngomong dong. Kan gak bisa diam aja terus sedih-sedih sendiri. Kalau gak ngomong, orang lain juga gak ngerti.”

Inilah situasi yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari – hari. Ketika ada masalah kita diam saja, dipendam, tidak diungkapkan. Ini adalah gaya komunikasi pasif.

Situasi serupa terjadi tidak hanya pada anak-anak, orang dewasa juga melakukan hal yang  sama baik dalam kehidupan sehari – hari mauupun di dunia kerja.

Ada 4 gaya komunikasi tentang bagaimana merespon sebuah situasi (terutama yang tidak sesuai dengan harapan). Inilah 4 gaya komunikasi tersebut:

  1. Pasif – diam aja, pasrah, “nrimo”
  2. Agresif – marah – marah dan konfrontasi dengan lawan bicara
  3. Pasif agresif – jengkel, tapi tidak bicara langsung dengan orang bersangkutan, malah ngegosip di belakang
  4. Asertif – percaya diri untuk berani bicara menyampaikan keinginan atau perasannya

Contoh Skenario 4 Gaya Komunikasi

Berikut akan saya sampaikan dalam sebuah skenario (contoh supaya lebih jelas perbedaan masing – masing gaya komunikasi). Ini dia skenarionya antara saya dan Gwen.

Saya dan Gwen sudah sepakat untuk sesi painting bersama. Namun ketika waktunya tiba, saya bukannya bersiap tapi malah… asyik main game. Mendapati itu, Gwen yang sudah siap dengan perlengkapan painting terkejut dan bereaksi. Berikut 4 kemungkinan reaksi Gwen sesuai dengan tipe komunikasinya. Cermati juga dan tentukan kira – kira Anda sering melakukan gaya komunikasi yang mana.

1) Tipe Pasif

Gwen memasang wajah gondok, mojok di ujung tembok, lalu gulung-gulung di karpet. Mendapati itu saya bertanya, “Gwen ngapain?” Gwen menjawab, “Nggak ngapa – ngapain.”

Karena merasa tidak ada masalah, saya pun lanjut berkata “Ok deh, Daddy lanjut main game ya.”

Itulah gaya komunikasi pasif. Ada apa – apa ya diam saja, merasa sedih – sedih sendiri. Istilah bahasa Jawa “nrimo”. Tidak mau bicara atau menyampaikan. Akibatnya adalah lawan bicara tidak tahu apa yang terjadi, Anda tidak mendapat apa yang Anda inginkan (di pekerjaan tujuan / goal Anda tidak bisa tercapai), lama – lama stress sendiri dan merasa powerless.

2) Tipe Agresif

Gwen marah – marah, “Daddy kenapa main game terus sih? Nggak tepatin janji buat main sama Gwen.” Diprotes seperti itu Daddy membalas, “Daddy dari tadi capek kerja. Gwen juga belum kerjain PR kan?!” Boom!

Itulah gaya komunikasi agresif. Ada sesuatu yang nggak sesuai harapan, langsung meledak. Marah – marah. Buat relasi malah jadi rusak. Kalau Anda punya posisi atau power, Anda bisa mendapatkan keinginan Anda tetapi dengan risiko relasi Anda rusak. Siapa yang suka dimarah – marahi. Dan rasanya capek juga kalau harus sering – sering konfrontasi.

3) Tipe Pasif Agresif

Gwen bukannya ngomong langsung ke saya tapi malah curhat ke Bu Guru, “Bu Guru, Daddy saya itu lo nggak pernah mau temenin saya main. Main game sendiri terus.”

Ini gaya pasif agresif dan ini sering sekali kita jumpai. Ada masalah, bukan ngomong ke orang yang bersangkutan, tapi malah curhat dengan orang lain yang tidak berkepentingan. Bersikap seperti ini kerugiannya malah ganda: pertama, tidak mendapat apa yang diinginkan dan kedua, bisa merusak relasi dengan orang yang bersangkutan kalau dia sampai tahu.

4) Tipe Asertif

Gwen berkata langsung, “Daddy, bukannya sekarang kita ini jadwalnya painting? Gwen maunya kan ditemani Daddy untuk sama  – sama gambar.  Lagian sudah ada di jadwal juga lo.” Saya pun merespon, “Oh, gitu ya. Baiklah, ayo.”

Nah itulah skenario idealnya. Ada sesuatu yang tidak sesuai harapan, Anda musti bisa berani ungkapkan apa yang jadi keinginan dan perasaan. Jangan dipendam, marah – marah atau bahkan ngegosip. Sampaikan dengan jelas dan dengan bahasa yang tidak sampai melukai perasaan orang lain. Menjadi asertif akan membuat Anda juga menjadi pribadi yang percaya diri.

Nah, itu tadi 4 gaya komunikasi yang sudah kita pelajari. Saya harap penjelasannya mudah dimengerti dan mudah diterapkan. Dalam kehidupan sehari – hari atau di dunia kerja, pastilah Anda menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan Anda. Bagaimana Anda seharusnya menyikapinya?

Jadilah lebih asertif, berani ungkapkan apa yang ada di pikiran dan perasaan Anda, terutama untuk hal – hal yang Anda anggap penting dalam hidup ini.

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"

FREE Ecourse

 21 Hari Menjadi Pribadi Menarik & Disukai Orang

Masukkan Nama & Email Anda sehingga kami bisa mengirimkan kontennya