Emotion – Cara Membuat Audiens Peduli Pada Apa yang Anda Sampaikan

By David Pranata | Tips Presentasi

Jun 20

Jika anda ingin membuat audiens:

  • peduli akan apa yang anda sampaikan
  • bertindak sesuai apa yang anda inginkan
  • mensharingkan apa yang ada sampaikan pada orang lain

maka menggunakan data, fakta dan logika saja tidaklah cukup, anda juga harus mampu menyentuh emosi audiens. Faktor emosilah yang akan membuat audiens peduli, bertindak dan bercerita pada orang lain. Ada sebuah quote menarik yang mengilustrasikan hal ini yaitu:

“When We Care, We Share”

emotion1

Ada sebuah bukti menarik mengenai bagaimana faktor emosilah yang berperan untuk menggerakkan seseorang bertindak. Cerita ini saya ambil dari buku “How We Decide” karangan Jonah Lehrer.

Ini adalah kisah dari seseorang bernama Elliot yang menderita tumor pada bagian otaknya. Kebetulah bagian yang diserang sehingga tidak bisa berfungsi adalah di bagian yang mengontrol emosi, sedang bagian yang mengatur rasio dan logika sama sekali tidak bermasalah. Apa yang terjadi pada si Elliot ini? Dia hanya bisa menimbang-nimbang setiap alternatif tanpa bisa mengambil keputusan untuk bertindak.

Bahkan dia mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan atas hal-hal kecil seperti apa menu yang dia inginkan untuk makan pagi. Haha.. mungkin dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menimbang untung ruginya musti makan nasi pecel, nasi goreng atau mie instan.

Karena bagian emosi yang mendorong dia untuk mengambil keputusan hilang, dia akhirnya mengalami kesulitan untuk bisa bertindak.

Oleh karena itu tambahkan unsur emosi di dalam presentasi anda. Anda bisa mengatur emosi apakah yang ingin audiens alami, apakah itu gembira, sedih, antusias atau bahkan marah (inilah cara yang digunakan oleh provokator untuk menyulut massa). Hanya saja pastikan bahwa anda menggunakannya dengan etis.

Lalu Pak.. bagaimana caranya saya bisa menggunakan unsur emosi dalam presentasi saya?

Cara yang paling pas adalah dengan menggunakan story/cerita. Cerita bisa mengandung unsur emosi yang bisa membuat audiens merasakan apa yang dirasakan oleh karakter yang ada di dalam cerita. Ada sebuah eksprimen yang dilakukan untuk membandingkan kekuatan statistk dan cerita. Dalam acara pengumpulan dana, si fund raiser mencoba menggunakan dua versi pesan, yaitu:

Versi 1:
Dengan menggunakan statistik seperti “Kelaparan di Malawi telah menimpa lebih dari 3 juta anak” atau “Lebih dari 11 juta anak yang ada di Ethiopia membutuhkan makan dengan segera”.
Hasilnya… rata-rata orang mendonasikan sebesar $1.14

Versi 2:
Dengan menggunakan cerita sbb:
“Berapapun uang yang anda donasikan akan kita salurkan ke Rokia, seorang anak berusia 7 tahun dari Mali, Afrika. Seorang anak yang benar-benar miskin dan mengalami ancaman bahaya kelaparan. Hidupnya akan berubah menjadi lebih baik sebagai dampak dari donasi anda. Dengan support dari anda dan sponsor yang lain, organisasi Save the Children akan berusaha supaya keluarga Rokia tetap mendapat makanan, memberi dia edukasi dan bantuan medis dan kesehatan yang dibutuhkan.”
Hasilnya… rata-rata orang mendonasikan sebesar $2.38

Dari eksperimen di atas ternyata dengan menggunakan cerita orang mendonasikan 2 kali lipat lebih banyak. Mengapa? bukankah yang disajikan dengan statistik justru menunjukkan bahwa jumlah anak yang menderita kelaparan lebih banyak (sampai jutaan orang)? sedang yang disajikan cerita yang hanya menceritakan satu anak saja.

Jawabannya adalah karena yang versi kedua (yg menggunakan cerita) lebih mengandung emosi sehingga lebih menyentuh. Emosilah yang akhirnya membuat orang bertindak. Hal ini sesuai dengan quote dari Mother Teresa sebagai berikut:

“If I look at the mass, I will never act. If I look at one, I will”
-Mother Teresa –

Cara lain yang bisa anda gunakan untuk menyentuh emosi adalah dengan menggunakan video. Kekuatan video yang lebih banyak melibatkan indra (ada visual yang bergerak, audio yang seringkali juga diiringi musik) akan sangat ampuh untuk menggerakkan emosi. Berikut saya berikan satu contoh video yang bisa menggerakkan emosi, video kali ini mengilustrasikan kekuatan memberi /giving.

Nah.. setelah mengetahui kekuatan emosi yang mampu menggerakkan audiens, tentunya sekarang anda ingin menggunakannya dalam presentasi anda kan?

Pertanyaan: “Jika anda mengetahui cara lain untuk menggerakkan emosi audiens, silahkan juga menambahkan di komentar”

Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"