Memilih Framework yang Tepat untuk Presentasi Memikat

By Surja Wahjudianto | Tips Presentasi

Jul 23

“Buatlah kerangkanya dulu, baru kemudian tuliskan karangannya.” Itulah pesan Ibu Guru saya waktu SD saat pelajaran mengarang. Barangkali Anda pun mendapat nasihat yang sama dan masih ingat. Nasihat ini ternyata berlaku juga saat Anda membuat presentasi.

Memilih framework yang tepat untuk presentasi Anda

Tanpa kerangka rasanya sulit untuk menuangkan gagasan. Baru satu atau dua kalimat saja sudah macet. Tidak ada lagi yang bisa ditulis.

Tidak hanya dalam menulis karangan, dalam presentasi pun membuat kerangka (framework) juga penting. Dan ternyata framework dalam presentasi ada banyak macamnya.

Manfaat Framework untuk Presentasi

Memilih framework yang tepat memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah:

  • Easier to understand. Informasi yang disusun dengan rapi jauh lebih mudah untuk dipahami dibandingkan informasi yang tidak jelas susunannya. Demikian juga dengan presentasi. Jika presentasi ditata dengan pola yang jelas maka akan lebih mudah dimengerti.
  • Easier to remember. Berkas-berkas yang ditata rapi dalam laci-laci yang sesuai akan lebih mudah dicari kembali jika dibutuhkan. Informasi dalam presentasi pun demikian, ia juga akan lebih mudah diingat kembali jika terpola dan tertata rapi.
  • More credible. Pembicara yang meluangkan waktu untuk menyiapkan dan menyusun presentasinya dipandang sebagai pembicara yang lebih kredibel dibandingkan dengan pembicara yang asal bicara.

Disamping pertimbangan manfaat seperti tersebut di atas, pemilihan framework presentasi juga perlu memperhatikan tujuan presentasinya. Pemilihan framework yang tepat dan sesuai dengan tujuan presentasi akan meningkatkan efektifitas dari presentasi tersebut.

6 Macam Framework Presentasi

Berikut ini saya bagikan 6 macam framework beserta tujuan  presentasinya.

1. Topical

Framework ini termasuk yang paling sering digunakan dalam presentasi. Ini biasanya dipakai untuk presentasi jenis informatif.

Dilihat dari namanya framework jenis ini dikembangkan berdasarkan turunan dari topiknya. Topik tersebut kemudian dipecah menjadi beberapa sub-topik (poin-poin).

Umumnya topik jenis framework ini diawali dengan angka. Misalnya:

  • “7 Rahasia Menjadi Pebisnis Online yang Sukses,” atau
  • “5 Langkah Mudah Menurunkan Berat Badan,” atau
  • “3 Cara Simple Mengubah Kebiasaan Buruk.”

Sebagai contoh, untuk “3 Cara Simple Mengubah Kebiasaan Buruk” mengembangkan sub-topiknya bisa seperti berikut ini:

  1. Hilangkan pemicu kebiasaan buruk
  2. Tetapkan pengganti kebiasaan buruk
  3. Visualisasikan Anda sudah berubah

2. Spatial

Framework spatial juga digunakan untuk presentasi yang informatif. Presentasi ini dikembangkan dengan menjelaskan tentang wilayah atau area (space).

Sebagai contoh, untuk presentasi mengenai tata letak gedung di kampus Anda, Anda bisa mulai dengan menjelaskan posisi fakultas A, lalu lanjutkan dengan fakultas B, kemudian fakultas C, dan seterusnya.

Untuk masing-masing fakultas jabarkan mengenai posisi geografisnya, perkiraan luas tanah dan bangunannya, jumlah lantai di tiap gedungnya, letak akses keluar-masuknya, dan sebagainya.

Semua yang Anda jabarkan tadi merupakan penjelasan mengenai area atau wilayah (space) suatu subyek presentasi.

3. Chronological

Framework ini pun masuk kategori framework untuk presentasi informatif. Ia mengembangkan topik presentasi berdasarkan urutan waktu kejadian.

Framework ini kerap dipakai untuk menjelaskan sejarah suatu organisasi atau perusahaan. Misalnya Anda ingin memaparkan kepada audiens awal mula berdirinya perusahaan Anda, kemudian menjelaskan perkembangannya selama 10 tahun sejak berdiri, lalu Anda lanjutkan dengan mengulas perkembangannya selama 10 tahun terakhir.

Atau bisa juga mengembangkan dengan pola past – present – future. Di awal Anda paparkan masa lalu organisasi Anda, lanjutkan dengan menggambarkan kondisnya saat ini, lalu akhiri dengan harapan bagi perusahaan di masa depan.

4. Causal

Framework ini sering disebut juga cause and effect. Framework jenis ini biasanya dipakai untuk jenis presentasi persuasif.

Di awal presentasi pembicara akan menyampaikan penyebab dari suatu masalah lalu diikuti dengan dampak-dampak yang ditimbulkannya.

Namun kadang urutannya bisa dibalik. Di awal pembicara menggambarkan tentang efek-efek yang ada tanpa memberitahu apa penyebabnya. Baru di tahap berikutnya pembicara mengungkap biang keladi dari masalah itu. Cara ini biasanya dipakai untuk memberi kejutan atau memberi efek dramatis dari presentasi.

Contoh framework causal paling umum adalah presentasi mengenai global warming atau pemanasan global. Awalnya pembicara mengulas tentang meningkatknya emisi karbon dioksida dari kendaraan bermotor dan juga dari pabrik-pabrik. Ini adalah bagian cause-nya.

Selanjutnya pembicara memaparkan efeknya. Beberapa efeknya adalah meningkatnya suhu global, perubahan cuaca ekstrem, hilangnya gletser, dan naiknya ketinggian permukaan air laut. Makhluk hidup pun terancam, hasil pertanian menurun kualitasnya, beberapa hewan jadi punah, manusia pun menderita.

5. Compare and contrast

Compare and contrast termasuk jenis framework untuk presentasi persuasif. Framework tipe ini membandingkan satu hal dengan hal lainnya. Presentasi penjualan, baik penjualan barang atau jasa, umumnya memakai pendekatan seperti ini.

Di tahap awal pembicara akan memaparkan tentang salah satu produk. Produk yang disebutkan pertama ini biasanya adalah produk kompetitor. Di sini disebutkan fitur-fiturnya dan harganya.

Setelah itu pembicara akan menjelaskan produk yang lainnya, yaitu produk yang sedang ditawarkannya. Tentu saja disini pembicara akan mengulas kelebihan-kelebihannya dibanding produk yang pertama. Kelebihan-kelebihan itu bisa berupa lebih tahan lama, lebih mudah pemakaiannya, lebih ramah lingkungan atau lebih terjangkau harganya.

Sudah barang tentu tujuannya adalah agar audiens – dalam hal ini prospek – bisa terpikat hatinya dan akhirnya bersedia membeli produk yang dipresentasikan.

6. Problem-solution

Problem-solution juga tergolong framework untuk presentasi persuasif. Pembicara akan menyampaikan masalah yang ada lalu disusul dengan tawaran solusi dari masalah tersebut.

Sebagai contoh, pembicara menyampaikan presentasai mengenai cara meningkatkan penjualan perusahaan. Di bagian awal pembicara memaparkan tentang trend penjualan perusahaan yang menurun terus dalam semester terakhir (problem).

Bagian berikutnya pembicara menawarkan langkah-langkah untuk menggenjot penjualan (solution). Solusi tersebut misalnya: meningkatkan kampanye iklan televisi, kampanye via media sosial, pemberian hadiah kepada pelanggan, melatih tenaga pemasaran, dan sebagainya.

Itulah 6 framework presentasi yang bisa Anda gunakan untuk presentasi Anda berikutnya. Gunakan pedoman ini dan rasakan bagaimana Anda akan banyak terbantu untuk merancang konten presentasi Anda.

Sekali lagi, dengan adanya framework ini presentasi Anda akan lebih mudah dipahami, lebih mudah diingat dan Anda juga dipandang sebagai pembicara yang kredibel.

About the Author

Surja Wahjudianto adalah pelatih presentasi kreatif. Pengalamannya mengajar di lembaga pendidikan Bahasa Inggris terkemuka EF English First dan menjuarai beberapa kompetisi public speaking mengantarkannya menekuni bidang pelatihan ini. Dia mengamati bahwa banyak orang yang merasa tidak percaya diri untuk membawakan presentasi meski mereka punya potensi. Karena itu dia bercita-cita membantu sebanyak mungkin orang mengejutkan diri mereka sendiri dengan keberanian berpresentasi serta kualitas presentasi yang meningkat pesat. Dapatkan artikel-artikel dan karya-karya Surja lainnya di www.katasurja.com