Banyak orang menganggap bahwa presentasi itu menakutkan. Bahkan sebelum berdiri di depan audiens, kita sudah keringat dingin duluan. Tapi bagian mana yang sebenarnya paling susah?

Presentasi: bagian manakah yang paling sulit?
Kalau ditanya, tantangan terbesar biasanya terdengar seperti ini:
Dan ya — semua itu memang tantangan nyata. Tapi setelah belasan tahun berkecimpung di dunia presentasi, saya menemukan bahwa hal tersulit dalam presentasi ternyata bukan itu semua.
Justru ada satu bagian yang jarang disadari, tapi sangat menentukan apakah presentasi Anda akan berhasil… atau malah gagal total.
Sayangnya, banyak orang melewatkannya begitu saja. Apa itu?
Menentukan Poin Utama Presentasi
Bukan slide, bukan teknik bicara, tapi apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan.
Ini adalah proses berpikir yang sangat krusial — dan kalau Anda melewatkannya, sebagus apapun desain atau gaya bicara Anda, hasil akhirnya tetap akan membingungkan audiens.
“Most presentations fail not because of poor delivery, but because of poor thinking.”
Banyak dari kita harus mempresentasikan materi yang… sebenarnya bukan kita yang buat. Sumbernya bisa dari buku, dokumen resmi, laporan keuangan, atau bahkan peraturan pemerintah.
Coba deh lihat situasi-situasi ini:
Di setiap contoh itu, si presenter tidak menyampaikan “isi kepala sendiri”, tapi harus mentransformasi materi tertulis agar bisa dipahami audiensnya.
Nah, di sinilah tantangannya: Banyak dokumen tersebut tidak didesain untuk dipresentasikan. Mereka penuh angka, paragraf panjang, atau istilah teknis yang membingungkan.
Supaya lebih jelas, saya tunjukkan dua contoh visual berikut ini:

Contoh laporan keuangan

Contoh peraturan
Gimana? Kebayang kan, sulitnya mengubah dua jenis dokumen ini jadi presentasi yang menarik dan mudah dipahami?
Karena terlalu banyak yang langsung lompat ke PowerPoint, tanpa benar-benar memikirkan apa yang ingin disampaikan.
Biasanya, saat sedang buru-buru atau bingung harus mulai dari mana, presenter akan melakukan hal paling mudah:
➡️ Copy-paste isi dokumen langsung ke slide.
Padahal, format dokumen seperti laporan keuangan atau peraturan pemerintah tidak didesain untuk dipresentasikan.
Kenapa?
Kalau isi dokumen langsung ditempel ke slide tanpa proses berpikir, yang terjadi adalah:
Inilah kenapa saya bilang: bagian tersulit dari presentasi adalah berpikir. Khususnya: menyaring informasi, menyederhanakan, dan mengubahnya ke dalam “bahasa presentasi”.
Bahasa presentasi itu berbeda dengan bahasa dokumen. Karakteristiknya:
Kenapa harus seperti itu?
Karena saat presentasi, audiens tidak bisa mundur dan mengulang seperti saat membaca dokumen. Mereka hanya punya sekali kesempatan untuk menangkap apa yang Anda sampaikan.
Dan biasanya, kesempatan bertanya juga sangat terbatas. Bahkan kadang hanya tersedia di sesi tanya jawab — setelah semua materi selesai.
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, salah satu ciri khas “bahasa presentasi” adalah disampaikan dalam bentuk poin-poin yang jelas. Maka dari itu, Anda perlu memilih dan menyaring isi dokumen menjadi poin-poin penting yang layak ditampilkan.
Dan berikut adalah langkah – langkah melakukannya:
Banyak presentasi gagal bukan karena kurangnya skill komunikasi — tapi karena si pembicara sendiri tidak sepenuhnya paham isi materinya.
Maka langkah pertama adalah: pahami isi bahan sampai tuntas.
Jangan hanya baca sekilas. Kuasai materi seperti Anda harus menjelaskannya ke orang lain tanpa slide. Karena nanti… memang itu yang harus Anda lakukan. 😉
Setelah menguasai isi materi, barulah Anda mulai memilih dan menyusun poin-poin penting. Anggap saja ini adalah kerangka awal presentasi Anda.
Tantangannya di sini: terkadang semuanya terasa penting.
Tapi ingat prinsip sederhana ini:
“Jika semua hal penting, maka justru tidak ada yang penting.”
Batasi jumlah poin. Tidak semua informasi dalam dokumen asli harus muncul di presentasi. Tujuannya adalah agar pesan Anda jelas — baik untuk Anda sendiri saat menyampaikan, maupun untuk audiens saat menerima.
Batasi jumlah poin. Tidak semua informasi dalam dokumen asli harus muncul di presentasi. Tujuannya adalah agar pesan Anda jelas — baik untuk Anda sendiri saat menyampaikan, maupun untuk audiens saat menerima.
CLARITY LEADS TO POWER.
Saya pernah membaca buku bagus: Building a StoryBrand karya Donald Miller. Di dalamnya ada analogi menarik soal pesan yang jelas.
Bayangkan film The Bourne Identity. Fokus utamanya jelas: Jason Bourne, seorang mata-mata, kehilangan ingatan dan berusaha menemukan siapa dirinya.
Nah, bagaimana kalau penulis naskahnya jadi “serakah” dan ingin menambahkan semua hal sekaligus?
Misalnya, Bourne tidak hanya ingin menemukan identitasnya, tapi juga:
🤯 Bisa dibayangkan hasilnya? Filmnya pasti berantakan.
Karena terlalu banyak keinginan, penonton justru bingung: “Ini film tentang apa sih sebenarnya?”
Begitu juga dalam presentasi.
Kalau Anda ingin menyampaikan terlalu banyak dalam waktu terbatas, audiens akan kehilangan arah. Akhirnya… tidak ada yang benar-benar nyantol di kepala mereka.
Maka dari itu, fokuslah. Pilih 3-5 poin utama. Susun dengan urutan yang logis. Biarkan audiens pulang dengan satu pesan jelas yang mereka ingat.
CLARITY LEADS TO POWER.
Ketika Anda tahu apa yang mau disampaikan, Anda akan menyampaikannya dengan percaya diri — dan audiens pun akan lebih mudah memahami.
Setelah menentukan poin-poin penting, langkah berikutnya adalah menyusun alur atau urutan penyampaian.
Ibarat bercerita, Anda butuh awal, tengah, dan akhir. Poin-poin yang sudah Anda pilih sebelumnya harus ditata sedemikian rupa agar presentasi terasa mengalir dan mudah diikuti.
Kadang urutan yang logis untuk presentasi tidak sama dengan urutan di dokumen aslinya — dan itu tidak masalah.
Misalnya:
Dokumen peraturan mungkin dimulai dari definisi, lalu landasan hukum, baru aplikasi.
Tapi di presentasi, Anda bisa mulai langsung dari kasus nyata, lalu masuk ke penjelasan hukum agar audiens lebih terhubung.
Yang penting: audiens paham. Jangan terpaku pada struktur dokumen, fokuslah pada alur berpikir audiens.
Presentasi yang alurnya jelas = audiens tidak tersesat.
Di tahap ini, saatnya merangkum semuanya dalam satu dokumen yang rapi — kerangka presentasi lengkap.
Anda bisa menyusunnya dalam:
Bullet points — untuk alur linear yang to the point
Mind map — jika Anda lebih visual dan ingin melihat hubungan antar ide

Contoh bullet points

contoh mind map
Tujuan dari kerangka ini adalah agar Anda bisa melihat gambaran utuh presentasi sebelum masuk ke desain slide.
Dengan kerangka yang solid, Anda bisa:
Ingat, kerangka presentasi = fondasi bangunan Anda. Semakin kokoh, semakin kuat pula keseluruhan presentasinya.
Sampai di sini Anda sudah mempelajari empat tahapan menentukan poin penting dan membuat kerangka presentasi. Supaya pembelajaran lebih mantap lagi berikut saya berikan satu contoh / studi kasus.
Pada April 2017 lalu, saya mendapat kesempatan untuk berbagi di Kantor Pusat DJP Pajak. Topiknya cukup menantang:
➡️ Bagaimana mempresentasikan sebuah peraturan perpajakan.
Hehe… baru dengar topiknya saja mungkin Anda sudah bisa membayangkan sulitnya, ya? Peraturan pajak itu padat, penuh istilah hukum, dan biasanya ditulis dalam bahasa yang kaku.
Tapi justru di situlah letak tantangannya — dan saat yang tepat untuk menerapkan 4 langkah menentukan poin penting presentasi seperti yang kita bahas sebelumnya.
Yuk kita lihat bagaimana penerapannya satu per satu:
Saat pertama kali menerima dokumen dari DJP, terus terang… saya sempat garuk-garuk kepala. 😅
Sebagai orang yang bukan berlatar belakang pajak, memahami isi peraturan ini bukan hal yang instan.
Saya harus membacanya berulang kali — menandai bagian penting, mencari penjelasan dari istilah yang tidak familiar, hingga akhirnya bisa memahami maksud dari aturan tersebut.
Dokumen yang saya pelajari adalah:
📝 Peraturan Menteri Keuangan No. 163/PMK.03/2012 tentang Pajak Kegiatan Membangun Sendiri.
Kalau Anda penasaran, silakan download di bawah ini dan baca sendiri — supaya bisa merasakan langsung tantangannya 😉
Download Contoh PeraturanSetelah memahami isi peraturannya secara menyeluruh, barulah saya mulai menyaring poin-poin penting yang perlu disampaikan.
⚠️ Perlu dicatat: proses ini tidak akan efektif jika Anda belum menguasai isi dokumen secara utuh.
Karena bagaimana mungkin kita bisa menyederhanakan sesuatu yang belum kita pahami, kan?
Dari peraturan yang saya pelajari, saya menyimpulkan bahwa isinya bisa diringkas ke dalam 5 poin utama:
Definisi
Kriteria kegiatan membangun
Tarif dan pengenaan pajak
Cara pembayaran pajak
Konsekuensi jika tidak atau kurang membayar
Tentu, hasilnya bisa saja berbeda antara satu orang dengan yang lain — dan itu sah-sah saja. Yang penting: esensi pentingnya sampai ke audiens.
Lalu, dari tiap poin utama, saya juga bisa menurunkan ke sub-poin. Contohnya:
Poin #1 Definisi
Setelah poin-poin dirumuskan, saya mulai menyusun alur penyampaian agar presentasi mudah dipahami audiens.
Di tahap ini, saya tidak mengikuti urutan peraturan secara kaku. Saya memilih alur yang lebih logis dan mudah dicerna oleh peserta pelatihan.
Jadi, jangan khawatir jika alur presentasi Anda nanti tidak sama persis dengan urutan dokumen aslinya.
Yang penting adalah: audiens mengerti pesan utamanya, tanpa harus tersesat di detail teknis.
Setelah alurnya jelas, saya menyusun kerangka akhir dalam bentuk bullet points. (Saya pribadi lebih nyaman dengan bullet dibandingkan mind map — tapi silakan gunakan format yang paling cocok untuk Anda.)
Jika Anda ingin melihat seperti apa bentuk kerangka final yang saya buat, silakan download melalui link berikut:
Download Kerangka HasilSaat Anda mencoba menjalani proses ini — dari dokumen awal yang kompleks ke kerangka presentasi yang ringkas dan jelas — Anda akan sadar: Inilah bagian tersulit dari presentasi.
Di titik ini, kemampuan Anda untuk berpikir, menganalisis, dan menyaring informasi benar-benar diuji.
Tapi kabar baiknya: proses ini bisa dilatih.
Dan dengan menerapkan 4 langkah yang sudah kita bahas, Anda akan semakin terbiasa menyusun presentasi yang kuat dari materi apa pun.
🎯 Ingin pelatihan yang lebih aplikatif dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi Anda?
Saya juga membantu perusahaan dan instansi pemerintah menyusun presentasi teknis (termasuk materi yang kompleks seperti peraturan atau laporan).
👉 Silakan kunjungi [halaman training saya di sini] untuk info lengkap dan contoh program pelatihan yang sudah dijalankan.
Banyak orang mengira kunci presentasi sukses ada pada slide yang keren, teknik berbicara, atau gaya panggung yang percaya diri.
Tapi seperti yang sudah kita pelajari bersama — fondasi presentasi yang kuat justru terletak pada proses berpikir.
Ketika Anda tahu apa yang ingin disampaikan dan bisa menyusunnya secara jelas, setengah pekerjaan Anda sudah selesai.
Jadi, sebelum menyentuh PowerPoint… ambil waktu sejenak untuk berpikir.
Dengan mengikuti 4 langkah yang sudah kita bahas tadi, Anda akan lebih siap menyampaikan presentasi yang terstruktur, padat makna, dan berdampak.
🔔 Kalau Anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk subscribe ke blog saya atau bagikan ke teman yang juga sedang belajar presentasi.
💼 Dan jika Anda adalah pribadi yang ingin belajar presentasi lebih lanjut dalam — Anda bisa simak informasi di bawah ini.
Speak with Power Home Study Course adalah program pembelajaran online yang bisa Anda ikuti kapan saja dan dari mana saja.
Program ini dirancang khusus untuk Anda yang sibuk, tapi tetap ingin tampil meyakinkan saat berbicara di depan umum.
Semua materi disampaikan dalam bentuk video tutorial, dan bisa diakses lewat laptop atau gadget Anda.

✅ 4 Modul Utama
✅ 38 Video Tutorial
✅ Lebih dari 4,5 Jam Pembelajaran Praktis
Dengan pendekatan yang sistematis, program ini akan membantu Anda merancang dan menyampaikan presentasi yang jauh lebih efektif — bahkan lebih baik dari 95% orang pada umumnya.
🔽 Klik tombol di bawah untuk info lengkap dan registrasi:
Informasi Detil Speak with Power HSC