Ini Dia Pilihan Topik Terbaik untuk Membuat Audiens Anda Tertawa

By David Pranata | Tips Presentasi

Aug 04

Membuat orang tertawa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Pertanyaan yang mungkin pertama kali terlintas di benak anda adalah “Apa yang harus saya ceritakan?”

oops

Banyak orang masih beranggapan bahwa untuk membuat audiens tertawa dalam sebuah presentasi itu berarti mereka harus jago menemukan, menghafalkan dan menyampaikan jokes-jokes. Jadi akhirnya mereka banyak menghabiskan waktu mencari jokes di internet atau bahkan membeli buku berisi kumpulan humor 🙂

Apa kelemahan menggunakan jokes dari internet?

Ada beberapa kelemahan ketika kita menggunakan jokes yang berasal dari internet atau buku kumpulan jokes.

Kelemahan yang pertama adalah seringkali ada audiens yang sudah pernah mendengarnya. Jikalau yang sudah tahu tetap duduk diam tenang saja sih tidak masalah. Akan tetapi seringkali persis ketika anda akan menceritakan bagian yang lucu, tiba-tiba mereka menyelutuk terlebih dahulu. Hasilnya momen anda menjadi berantakan 🙂

Selain itu audiens juga bisa saja beranggapan “Wah presenter ini banyak sekali mengutip jokes dari internet, jangan-jangan isi presentasinya yang lain dari hasil kutipan juga”. Nah.. inilah anggapan yang tentunya anda tidak ingin ada di benak audiens bukan?

Kelemahan yang kedua adalah susah mendapatkan jokes yang sesuai dengan materi presentasi kita. Dalam presentasi sedapat mungkin kita tetap berada on track, penyampaian materi dan topik tidak sampai melebar ke mana-mana. Oleh karena itu humor yang kita sampaikan harusnya sesuai juga dengan topik yang sedang kita bawakan.

Dari pengalaman saya, tidak mudah mendapatkan jokes yang bisa sesuai dengan pesan yang sedang kita presentasikan. Saya harus benar-benar mencari dari sekian banyak kumpulan jokes barulah bisa menemukan yang pas.

Jadi.. apakah saya tidak boleh menggunakan jokes dari internet? Boleh-boleh saja… hanya saran saya jangan juga terlalu berlebihan. Sadarilah dua kelemahan menggunakan jokes dari internet yang ada di atas.

Lalu.. topik apa yang kira-kira bisa sesuai, cocok dan mampu membuat orang tertawa? Ini dia jawabannya:

Gunakan Self Deprecating Humor

Self deprecating humor adalah humor yang mencerikan tentang kegagalan, kekonyolan atau hal-hal memalukan yang pernah anda alami. Saya pribadi bisa mengatakan bahwa ini adalah topik terbaik untuk bisa membuat audiens tertawa sekaligus connect dengan anda sebagai pembicara.

Berikut adalah beberapa link ke contoh tulisan saya yang menggunakan pola self deprecating humor:

Audiens akan merasa senang dan bisa tertawa ketika mendapati anda sebagai figur otoritas (notes: orang yang sedang berpresentasi akan dianggap sebagai figur otoritas waktu itu) ternyata juga bisa salah, keliru dan mengalami hal-hal konyol. Hal ini akan membuat mereka rileks dan bisa connect dengan anda.

Dan untuk mendapatkan self deprecating humor ini anda tidak perlu susah-susah mencari di internet atau buku kumpulan jokes. Anda tinggal mencari saja pengalaman anda yang relevan dengan topik yang sedang anda bawakan ini.

Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Ketika membawakan topik presentasi, anda bisa menceritakan pengalaman pertama kali anda harus berpresentasi
  • Ketika membawakan topik perpajakan, anda bisa menceritakan ketika kesalahan yang anda buat sampai membuat boss bingung tujuh keliling
  • Ketika membawakan topik marketing, anda bisa menceritakan pengalaman ketika anda ditolak-tolak terus oleh customer

Berikut adalah beberapa panduan sub topik yang bisa anda gunakan untuk mencari self deprecating humor yang ada dalam diri anda. Saya ringkas menggunakan akronim 4F, ini dia:

1. Flaw

Flaw adalah bercerita tentang ketidaksempurnaan yang ada dalam diri anda. Berita baik untuk anda yang mungkin kelebihan berat badan, rambut mulai botak atau wajahnya pas-pasan 🙂 Inilah kesempatan anda untuk berkomentar atau bercerita tentang hal-hal tersebut.

Audiens suka dengan presenter yang tidak mempermasalahkan dan bahkan justru bisa mentertawakan sendiri kelemahan-kelemahan yang mereka miliki.

2. Failure

Failure adalah bercerita tentang kegagalan yang pernah anda alami. Di sini anda bisa menceritakan tentang pengalaman anda ditolak calon pacar, dimarahi oleh atasan atau mengalami kebangkrutan. Anda bisa sesuaikan dengan topik yang sedang anda sampaikan.

Dalam menceritakan kegagalan, janganlah menggunakan sudut pandang yang depresi dan putus asa. Justru lihatlah hal-hal tersebut sebagai pelajaran dan hal lucu yang bisa anda tertawakan sekarang.

3. First time

First time adalah pengalaman pertama anda melakukan sesuatu. Pertama kali melakukan sesuatu biasanya anda masih bingung, gagal atau melakukan kesalahan. Hal ini cocok sekali terutama ketika anda mengajarkan sesuatu kepada orang yang masih pertama kali belajar.

Misalnya saja saya selalu menceritakan pengalaman pertama saya belajar presentasi (yang masih belepotan dan blank terus) kepada peserta training. Mereka bisa tertawa dan menyadari bahwa segala sesuatu itu bisa dipelajari, bahkan beberapa orang berkata pada saya “Terima kasih sudah cerita Pak David, sekarang saya sadar bahwa masih ada harapan untuk saya (karena kondisi saya tidak separah Pak David dulunya @[email protected])”.

4. Frustation

Frustation adalah cerita tentang hal yang menjadi sumber kegalauan, kebingungan dan rasa frustasi anda. Dengan ini anda juga menunjukkan pada audiens bahwa anda bukanlah pribadi yang sempurna, anda juga memiliki rasa frustasi dan kuatir (sama seperti yang audiens alami).

Nah.. itu dia tadi tips-tips tentang menggunakan self deprecating humor, yang menurut saya pribadi adalah topik terbaik untuk membuat audiens tertawa.

Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?
PR: Temukan satu self deprecating humor di topik atau kondisi yang sering anda bawakan untuk presentasi. Praktekkan dan sampaikanlah di presentasi anda yang berikutnya atau Anda juga bisa mengsharekannya pada kolom komentar yang ada di bawah ini 🙂
Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"