1

Ingin Menjadi Pendengar yang Lebih Baik? Kuasai Satu Skill ini Dahulu

Bayangkan jika orang yang ada di depan Anda merasa dirinya didengarkan, diperhatikan dan dianggap penting, tentu serta merta dia akan menganggap Anda sebagai pribadi yang menyenangkan. Nah, buat hal itu terjadi dengan menguasai skill yang satu ini.

bertanya

Supaya hal yang saya sebutkan di atas bisa terealisasi maka Anda haruslah bisa menjadi pendengar yang baik, yang mampu membuat orang lain merasa dirinya diperhatikan. Dan untuk menjadi pendengar yang baik, mau tidak mau Anda harus menguasai satu skill penting berikut ini.

Jadi.. skill apa yang saya maksud? Jawabannya adalah skill bertanya.

Mengapa Anda Membutuhkan Skill Bertanya?

1. Bertanya menunjukkan bahwa Anda peduli

Pernahkan Anda terlibat dalam pembicaraan di mana lawan bicara Anda-lah yang terus menerus mendominasi pembicaraan? Tanpa henti dia bercerita tentang kisah, pengalaman dan opininya? Sudah 10 menit Anda menunggu tapi ceritanya tak kunjung usai 🙂

Apakah Anda bisa menikmati pembicaraan tersebut? Apakah dengan melakukan hal yang sama, Anda akan bisa menjadi teman bicara yang baik?

Saya yakin Anda akan menjawab “Tidak”. Anda akan merasa kurang dipedulikan, karena lawan bicara tidak pernah bertanya sedikitpun tentang apa cerita, pengalaman atau opini Anda.

Oleh karena itu dalam sebuah percakapan, pandai-pandailah bertanya. Bertanya akan menunjukkan bahwa Anda peduli akan kisah, pengalaman dan opini lawan bicara Anda. Dengan melakukan hal ini Anda akan bisa membuat lawan bicara Anda merasa dirinya penting.

2. Yang bertanyalah yang memegang kendali atas pembicaraan

Orang yang bertanyalah yang justru memegang kendali akan arah pembicaraan. Contoh simpel dari hal ini adalah acara talk show yang sering Anda lihat di televisi. Moderator yang jago akan pandai dalam mengajukan pertanyaan yang mengalir dan menentukan arah perbincangan.

Di dalam sales, hal yang sama juga berlaku. Seorang sales yang jago justru bukanlah mereka yang tanpa henti berbicara dan bercerita mengenai produknya. Sales yang handal justru akan lebih banyak bertanya untuk menggali keinginan dan kebutuhan calon pelanggannya.

Jadi jika Anda ingin menjadi teman bicara yang menyenangkan dan disukai orang, maka skill bertanya inilah yang mutlak harus Anda miliki dan kuasai.

“Lalu Pak, apa saja tips-tips untuk bisa bertanya lebih baik?”. Okay, ini dia tiga tips untuk menjadi penanya yang lebih baik

Tips #1: Bertanyalah Sesuai dengan Topik Pembicaraan Saat Itu

Jika Anda bertanya, bertanyalah untuk menunjukkan rasa tertarik akan apa yang sedang disampaikan oleh lawan bicara. Atau singkat katanya “Ajukan pertanyaan yang nyambung”. Supaya jelas berikut contohnya:

Contoh yang keliru:
A: Kemarin saya barusan mendengarkan seminar bagus lo.
B: Oh ya.. ngomong-ngomong kamu sudah nonton film Superman yang baru belum?

Contoh yang benar:
A: Kemarin saya barusan mendengarkan seminar bagus lo.
B: Oh ya.. topiknya tentang apa? Siapa yang membawakan?

Jelas kan ya perbedaannya? Di contoh yang keliru, bukannya lawan bicara merasa diperhatikan bisa-bisa mereka malah merasa sewot karena sepertinya kita tidak mengindahkan apa yang mereka sampaikan.

Sehubungan dengan bertanya sesuai ini, saya ada satu teknik bertanya yang terjamin pertanyaan Anda bakal sesuai topik dan cocok jika Anda bingung pertanyaan apa yang mau ditanyakan. Teknik ini disebut teknik parroting atau istilah tidak kerennya teknik membeo.

Dengan teknik parroting yang perlu Anda lakukan adalah mengulangi / memparafrasekan kalimat terakhir lawan bicara plus ditambah nada bertanya. Ini dia contohnya:

Contoh 1:
A: Kemarin saya barusan mendengarkan seminar bagus lo.
B: Oh.. dari seminar bagus ya?

Contoh 2:
A: Ternyata makanan di Depot Si Mbok itu enak.
B: Depot Si Mbok? Enak ya?

Haha.. itu lah contoh teknik parroting, sederhana bukan? Tapi jangan sering-sering digunakan ya, bisa-bisa lawan bicara nanti akhirnya sebel juga 🙂

Tips #2: Gunakan Lebih Banyak Open Ended Question

Sebelumnya kita harus tahu lebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan open ended question / pertanyaan terbuka dan close ended question / pertanyaan tertutup.

Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang jawabannya adalah “Ya” atau “Tidak”. Contoh dari pertanyaan jenis ini adalah:

  • Apakah Bapak sudah makan?
  • Apakah Ibu suka bepergian?

Jawaban dari pertanyaan ini sangat singkat (Ya atau Tidak) sehingga pembicaraan akan susah sekali berkembang. Bayangkan jika Anda terus menerus menggunakan pertanyaan tertutup, bisa jadi sesi ngobrol menjadi seperti sesi interogasi.

Sebaliknya pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang tidak bisa sekedar dijawab dengan “Ya” atau “Tidak”, si penjawab harus menguraikan lebih lanjut. Contoh dari pertanyaan jenis ini adalah:

  • Jenis makanan apa saja yang Bapak sukai?
  • Biasanya jika bepergian, Ibu ke mana saja?

Pertanyaan terbuka ini biasanya akan menggunakan kata tanya seperti: Siapa, Apa, Kapan, Di Mana, Mengapa dan Bagaimana. Oleh karena itu dalam percakapan. lebih seringlah menggunakan pertanyaan terbuka supaya pembicaraan bisa lebih berkembang.

Extra Tips

Kata tanya yang menurut saya paling ampuh dan susah dijawab dengan pendek adalah “Bagaimana ceritanya…?”. Contohnya dalam konteks di atas adalah “Bagaimana ceritanya Bapak kok bisa suka banget makan nasi goreng?”

Nah.. susah kan dijawab pendek-pendek? Oleh karena itu selalu perlengkapi diri Anda dengan kata tanya ini.

Tips #3: Ada Saatnya Giliran Anda yang Membuka Diri

Dalam pembicaraan tidak bisa Anda terus menerus yang mau bertanya dan mendengar (walaupun yang tipe ini jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang tidak henti-henti berbicara). Jikalau Anda tidak henti berbicara, bisa-bisa lawan bicara menganggap Anda terlalu ingin tahu (istilah gaulnya: kepo) atau merasa seperti diinterogasi.

Pembicaraan ibaratnya adalah seperti permainan tenis, Anda melontarkan pertanyaan, lawan bicara menjawab. Lawan bicara ganti melontarkan pertanyaan, saatnya Anda pula menjawab dan membuka diri.

Salah satu syarat supaya pembicaraan bisa lebih meningkat lebih dekat adalah adanya vulnerability atau kemampuan untuk membuka diri. Jikalau Anda mau membuka diri, maka lawan bicara juga nantinya akan membuka diri.

Jadi jangan ragu juga untuk bercerita tentang kisah, pengalaman dan opini Anda. Hanya saja, jika Anda melakukannya (terutama pada tahap-tahap awal pembicaraan) lakukan dengan singkat dan jelas. Jangan satu pertanyaan Anda jawab dengan cerita sepanjang 10 menit yang membuat lawan bicara berpikir “Waduhh.. ngapain saya tadi tanya segala, menyesal saya.”

Giliran Saya Bertanya Ya!

Nah.. saya kan sudah banyak bercerita melalui blog ini, sekarang giliran saya bertanya deh 🙂 Jikalau Anda mampir di blog ini dan berkenan, perkenalkan diri Anda melalui komentar di bawah supaya kita lebih saling mengenal.

Jika Anda bingung caranya memulai perkenalan, simak artikel yang ini dulu deh. Silahkan berikan link ke website Anda juga (jika Anda memiliki website atau blog). Saya tunggu perkenalan Anda ya!

Sharing is Caring
David Pranata
 

Halo, Saya David Pranata seorang speaker, trainer dan writer. Harapan saya dengan adanya blog ini orang akan mampu berkomunikasi dan berpresentasi dengan lebih baik. Hasil akhirnya adalah mereka bisa memiliki pengaruh lebih, stand out of the crowd dan disukai oleh teman, boss, keluarga dan (bahkan) mertua.