Tiga Kesalahan Utama dalam Menyusun Konten Presentasi (Mana yang Pernah Anda Buat?)

By David Pranata | Tips Presentasi

May 13

Apakah presentasi anda simpel dan mudah diingat? ataukah akan menjadi rumit dan membingungkan? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan tergantung dari bagaimana cara anda menyusun konten presentasi.

mistake

Banyak presentasi yang membuat audiens kebingungan dan akhirnya merasa tidak mendapat apa-apa dari dari presenter. Padahal semua presenter ini sama sekali tidak ada niatan untuk membuat audiens bingung atau menghabiskan waktu audiens.

Mereka justru memiliki niatan baik untuk berbagi dan menyampaikan apa yang mereka ketahui dan alami.

Di sinilah pentingnya menguasai teknik berpresentasi. Niatan baik untuk berbagi atau passion untuk berbicara saja tidak cukup. Anda harus mengetahui dan menguasai cara menyusun konten yang efektif supaya mudah diikuti dan diingat oleh audiens.

Dan dari pengalaman saya menyaksikan dan mengevaluasi sekian banyak presentasi, berikut adalah tiga kesalahan yang sering terjadi ketika presenter menyusun konten presentasi mereka. Silahkan anda pelajari dan praktekkan …Ooopps hindarkan dari presentasi anda yang berikutnya.

(1) Menyampaikan terlalu banyak poin

Banyak presenter adalah orang-orang baik hati yang ingin menyampaikan sekian banyak (atau jika perlu semua) hal yang mereka ketahui. Sebagai hasil mereka akhirnya berpresentasi tentang “34 Tips untuk Membuat Kebun Anda Tampak Terawat” atau “46 Langkah Menuju Kesuksesan”.

Bagaimanapun juga niatan baik ini akan terkendala oleh waktu dan batasan jumlah informasi yang bisa diterima oleh audiens.

Semakin banyak jumlah poin yang hendak anda sampaikan berarti semakin sedikit waktu yang bisa dialokasikan untuk membahas masing-masing poin secara detil dan mendalam. Sehingga karena sedemikian banyak poin yang ingin disampaikan bisa-bisa presentasi menjadi seperti membaca daftar tips-tips saja tanpa disertai penjelasan yang memadai.

Selain itu semakin banyak jumlah poin yang disampaikan juga akan membuat audiens semakin susah untuk mengingat poin-poin tersebut.

Jadi jangan sampai kesalahan ini juga terjadi pada anda. Batasilah jumlah poin yang ingin anda sampaikan. Saya tahu bahwa kadang susah untuk melakukan hal ini, seringkali kita berkata “Waduhh… hal ini penting banget, mana bisa tidak saya sampaikan”. Akan tetapi jika semua hal penting, maka sebenarnya tidak ada yang penting.

If everything is important, then nothing is
– Patrick M. Lencioni –

Lebih baik anda menyampaikan tiga hal yang akhirnya bisa diingat dan dipraktekkan oleh audiens daripada menyampaikan 23 hal yang akhirnya dilupakan semua oleh audiens.

(2) Tidak disertai contoh dan cerita

Banyak audiens yang mengeluh bahwa presentasi yang mereka dengar seringkali terkesan abstrak. Mereka tidak benar-benar mengerti apa yang hendak disampaikan oleh si presenter.

Hal ini bisa terjadi biasanya karena presenter hanya menjelaskan dan memberikan definisi dari poin yang ia sampaikan tanpa disertai contoh-contoh dan cerita.

Dan Heath dan Chip Heath dalam bukunya “Made to Stick” mengatakan bahwa sesuatu yang concrete (nyata) akan membuat audiens lebih mudah mengingat apa yang hendak anda sampaikan.

Lalu Pak.. bagaimana membuat presentasi saya lebih nyata? Ada beberapa hal yang bisa anda lakukan.

  • Berikan banyak contoh-contoh. Usahakan contoh yang anda berikan sesuai konteksnya dengan apa yang dialami oleh audiens. Misal: jika anda berpresentasi tentang tips menjual di asuransi maka berikan contohnya di bidang asuransi pula
  • Gunakan cerita. Sebuah cerita akan membuat audiens mampu membayangkan secara nyata akan kejadian yang anda sampaikan.
  • Gunakan demonstrasi dan praktek. Jikalau waktu dan konteks memungkinkan, buatlah audiens untuk mencoba dan mempraktekkan secara langsung.

Jadi janganlah membuat presentasi anda menjadi abstrak dan membingungkan, buatlah presentasi anda mudah dimengerti dan konkrit dengan memberikan banyak contoh, cerita dan bahkan demonstrasi langsung.

(3) Konten tidak sesuai dengan audiens

Seringkali presenter tidak pernah benar-benar mengenali audiens dan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Mereka berpresentasi di topik yang benar-benar berada di luar minat dan kebutuhan audiens. Hasil akhirnya adalah audiens menjadi heran dan sama sekali tidak mendapat apa-apa.

Berikut akan saya berikan dua contoh untuk mengilustrasikan pentingnya hal ini.

Contoh #1:

Saya pernah menghadiri sebuah seminar di universitas dengan topik “Aspek hukum dalam mendirikan bisnis”. Seminar ini sendiri diperuntukkan untuk mahasiswa semester dua yang hendak memulai bisnisnya. Di salah satu sesinya pembicara berbicara tentang aspek perpajakan, cara menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP), cara membayar pajak dll.

Apa yang disampaikan oleh pembicara tersebut tentu saja tidak pas dengan apa yang dibutuhkan oleh mahasiswa saat itu. Mereka masih belum sampai tahapan itu. Hasilnya adalah wajah mahasiswa yang terbengong-bengong, sibuk ngobrol sendiri dan pulang tanpa mendapat apa-apa.

Contoh #2:

Misalnya anda diminta untuk memberi materi dalam topik public speaking / presentasi. Sebelum anda menyusun materi, ketahuilah dulu siapa audiens anda dan jenis presentasi apakah yang mereka lakukan.

Mengapa anda harus melakukan hal ini?

Karena presentasi yang dilakukan oleh seorang guru / dosen tentunya akan sangat berbeda dengan presentasi seorang sales dan juga sangat berbeda presentasi bisnis seorang manager ketika memberi laporan. Dengan mengetahui apa yang mereka butuhkan maka anda akan bisa menyusun materi yang sesuai.

Jadi itu tadi adalah tiga kesalahan yang sering saya temui ketika seorang presenter menyusun konten presentasi mereka. Jangan sampai anda terjebak pada kesalahan yang sama!

Semoga artikel ini bisa menginspirasi dan membantu anda untuk semakin lebih baik dalam presentasi-presentasi anda yang berikutnya.

Pertanyaan: “Pernahkan anda menjumpai kesalahan serupa di presentasi yang pernah anda dengar?” Silahkan sharingkan jawaban anda di kolom komentar yang ada di bawah.
Follow

About the Author

Halo, Saya David Pranata seorang trainer dan writer. Harapan saya adalah blog ini mampu menbantu Anda mengkomunikasikan keinginan, kebutuhan dan perasaan dengan jelas dan percaya diri - "Speak & Express What Matter Most"